PARA TOKOH SUFI DARI KALANGAN TABI’IN:
UWAIS AL-QARANI, AMIR BIN ABDILLAH, HARIM BIN HAYYAN, HASAN AL-BASHRI, URWAH BIN ZUBAIR, MUHAMMAD BIN HANAFIAH
Makalah ini ditujukan untuk memenuhi mata kuliah:
SEJARAH TASAWUF

Dosen Pengampu:
Ahmad Syathori M.Fil.I.
Oleh:
Muhammad Ainur Rosy

MA’HAD ALY AL-FITHRAH
TAKHAS{S{US  TAS{AWUF DAN TAREKAT
(TAS{AWWUF WA THARIQATUHU)
Jl. Kedinding Lor  No 99 Surabaya
2018

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
            Ilmu tasawuf adalah sebuah ilmu yang dengannya seseorang dapat lebih dekat dengan Tuhannya. Bahkan lebih dari itu, bagi para sufi yang telah mencapai puncak ma’rifat billah semua hal-hal yang nampak dan terlihat olehnya (salik) seakan-akan itu adalah Tuhannya. Ilustrasinya, Tidak sedikit dari para tokoh ahli sufi baik dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in dan seterusnya yang melontarkan perkataan seperti “ana Allah” (aku adalah tuhan), dan semisalnya. Perkataan seperti ini bukan karena ada tujuan meremehkan, ataupun unsur lainnya. Melainkan seorang sufi yang melontarkan perkataan seperti itu memang benar-benar sudah sampai maqam puncak ma’rifat yang dalam istilah tasawuf disebut dengan wuhdah al-Wujud. Dalam perjalanan seorang salik untuk meraih sebuah mutiara kehidupan yaitu sebuah hakekat dapat diraih dengan beberapa cara, seperti zuhud, wara’, sabar, muhasabah, dan lain-lain. Hal ini termanivestasikan dengan perjalanan spiritual yang telah dilalui oleh para tokoh sufi dari kalangan tabi’in dan tabi’it tabi’in. Dalam penulisan makalah kali ini, penulis akan memaparkan biografi tokoh para sufi dari kalangan tabi’in dan tabi’it tabi’in beserta pemikiran dan ajarannya.
B.  Rumusan Masalah
1.    Siapakah Uwais al-Qarani?
2.    Siapakah Amir bin Abdillah?
3.    Siapakah Harim bin Hayyan?
4.    Siapakah Hasan al-Bashri?
5.    Siapakah Urwah bin Zubair?
6.    Siapakah Muhamad bin Hanafiah?
C.  Tujuan
1.    Untuk mengetahui siapakah Uwais al-Qarani tersebut.
2.    Untuk mengetahui siapakah Amir bin Abdillah tersebut.
3.    Untuk mengetahui siapakah Harim bin Hayyan tersebut.
4.    Untuk mengetahui siapakah Hasan al-Bashri tersebut.
5.    Untuk mengetahui siapakah Urwah bin Zubair tersebut.
6.    Untuk mengetahui siapakah Muhammad bin Hanafiah tersebut.






















BAB II
PEMBAHASAN
A.           Uwais Al-Qarani
1.    Biografi Uwais Al-Qarani
Nama lengkap Uwais al-Qarani adalah Uwais bin Amir bin Jazi bin Malik bin Amr bin Musa’adah bin Amir bin Iswan bin Qaran bin Radman.[1] Qarn adalah salah satu suku dari kabilah yang terkenal di Arab bernama Murad. Uwais al-Qarani adalah seorang pemuda yang berasal dari Negara Yaman. Beliau adalah waliyullah yang hidup di zaman Rasulullah SAW, beriman, dan membenarkan beliau SAW sebagai nabi dan Rasul terakhir. Akan tetapi Uwais belum pernah berjumpa dan menulis hadis dari beliau SAW. Oleh karena itu Uwais tidak tergolong sahabat Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menginformasikan bahwasannya Uwais adalah tokoh sufi dari kalangan tabi’in.[2] Karena kesufiannya itu Rasulullah SAW menetapkan bahwasannya Uwais al-Qarani adalah sebaik-baiknya laki-laki dari kalangan tabi’in.[3] Rumah yang ditempatinya sangatlah sederhana. Dia tinggal di tanah yang tandus dan di gurun pasir yang menghampar di rumahnya.[4] Uwais wafat di medan perang bersama sayyidina Ali k.w di perang shifin dalam keadaan syahid pada tahun 37 H.[5]
2.    Ciri-Ciri Uwais Al-Qarani=latar belakang ditulisnya ciri2 Uwais
Seandainya Rasulullah  SAW tidak menjelaskan sifat dan kepribadian Uwais niscaya para sahabat tidak akan mengetahui bahwa masih ada seseorang di dunia ini yang seperti Uwais. Rasulullah  SAW menjelaskan tentang sifat-sifat Uwais al-Qarani. Rasulullah SAW bersabda: “wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah SWT mencintai makhluk-Nya yang bersih hatinya, tersembunyi, baik, rambutnya acak-acakan, wajahnya berdebu, perutnya kosong dari makanan kecuali dari hasil pekerjaan yang halal, orang-orang yang apabila meminta izin kepada para penguasa maka tidak diizinkan, jika melamar wanita-wanita yang menawan maka mereka tidak mau menikah. Jika tidak ada, mereka tidak mencari. Ketika hadir, mereka tidak mengundang. Apabila muncul, kemunculannya tidak disikapi dengan kegembiraan. Apabila sakit, mereka tidak menjenguk dan apabila mati, tidak dihadiri prosesi pemakamannya.” Para sahabat bertanya, Bagaimana kita dapat menjadi bagian dari mereka?” Rasulullah SAW menjawab: “orang itu memiliki nama Uwais al-Qarani yang berasal dari kota yaman.”
Para sahabat bertanya,
”apa ciri-ciri orang yang bernama Uwais al-Qarani?”
Rasulullah SAW menjawab,” Seorang yang warna bola matanya bercampur antara biru dan merah, mempunyai warna kekuning-kuningan, berbahu lebar, berbadan tegap, warna kulitnya terang, dagunya sejajar dengan dadanya, menundukan dagunya ketempat sujudnya, meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya, membaca al-Qur’an lalu menangis, mengenakan sarung dari wol, pakaian atasnya dari wol, tidak dikenal penghuni bumi, terkenal dikalangan penghuni langit, apabila bersumpah atas nama Allah SWT maka ia pasti memenuhi sumpahnya. Sungguh dibawah bahu kirinya ada cahaya berwarna putih. Sungguh, ketika hari kiamat diperintahkan kepada para hamba,
Masuklah kalian ke dalam surga.” Dikatakan kepada Uwais, “berhentilah”. Berilah syafa’at lalu Allah SWT memberikan hak syafaat kepadanya untuk menolong sejumlah orang dari suku Rabi’ah dan Mudhar (dua kabilah bangsa Arab). Wahai Umar, wahai Ali, apabila kalian berdua bertemu dengannya maka mintalah kepadanya agar kiranya ia memintakan ampunan untuk kalian, maka Allah SWT akan mengampuni kalian berdua”.[6]
3.    Kisah Perjumpaan Antara Uwais Al-Qarani Dengan Umar R.A Dan Ali R.A
Hari berjalan demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun telah dilalui oleh kedua sahabat Nabi SAW yaitu Umar dan Ali dalam mencari Uwais,  sampai 20 tahun beliau berdua mencari Uwais. Pada tahun itu, sahabat Umar r.a dan Ali r.a sedang mencari dengan berdiri dan memaggil para jamaah haji dengan suara yang lantang dan keras, Ali r.a. seraya bertanya: “wahai para jama’ah yang berasal dari yaman, apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais?”, Lalu berdirilah seorang yang sangat tua dan menjawab: “saya tidak tahu siapa Uwais yang kalian maksudkan, akan tetapi saya memiliki keponakan laki-laki yang bernama Uwais, dia tidak dikenal, miskin, dan serba kurang dan rendah untuk dihaturkan kepada kalian, serta  dia juga mengembala unta”. Lalu Umar r.a berkata: “justru keponakanmu itu yang sedang kami maksud.”    Lalu Umar r.a bertanya kembali: “dia sekarang mengembala dimana?, Orang tua tersebut menjawab: “dia sedang mengembala di pohon arak yang biasa dijadikan sebagai tempat pengembalaan. Umar r.a dan Ali r.a bergegas menemuinya. Setelah sampai di tempat yang ditunjukkan oleh orang tua itu ternyata ditemuinya Uwais sedang berdiri di sebelah pohon dengan tenggelam dalam kekhusyuan shalatnya dan untanya berada didekatnya. Setelah selesai shalat, lalu kedua sahabat Rasul tersebut langsung menghadapnya dan beruluk salam. Uwais menjawab salam dari keduanya. Lalu Umar r.a dan Ali r.a bertanya kepada Uwais: “apakah engkau orang yang mengembala unta?”, Uwais menjawab: “ya”, Keduanya bertanya kembali: “siapa namamu?”, Abdullah, ujar Uwais. Lalu keduanya melontarkan pertanyaan kembali: “apakah namamu ini adalah nama yang telah diberikan oleh ibumu?”, Uwais tidak menjawab ya atau tidak, akan tetapi Uwais langsung menanyakan apa tujuan mereka berdua datang kepadanya. keduanya menjawab: “Rasulullah SAW telah memberikan ciri-ciri Uwais al-Qarani kepada kami, dan sunguh kami telah mengetahui bahwa dia memiliki warna bola mata bercampur antara biru dan merah yaitu warna kekuning-kuningan, dibawah bahu kirinya ada cahaya berwarna putih. Lalu Uwais menunjukkan bahunya, ketika tampak cahaya yang berkilau seketika itu kedua sahabat Rasul ini bergegas menghadap dan berkata kepada Uwais: “kami yakin bahwa engkau adalah Uwais, mintakanlah ampunan untuk kami wahai Uwais”. Lalu Uwais berkata: “tidaklah aku mengkhususkan istighfarku kepada diriku sendiri dan tidak pula kepada manusia akan tetapi istihfarku tersebut berlaku kepada semua hewan yang ada di laut dan seluruh orang mukmin dan muslim di darat”. Wahai kalian berdua, sungguh Allah telah mengenalkan kepada kalian tentang keadaanku dan memberitahukan urusanku, lantas siapakah kalian berdua?, Ali r.a menjawab: “ini adalah Umar amirul mu’min, dan aku adalah Ali bin Abi Thalib. Lalu Uwais baru mengetahui keduanya, dan Uwais beruluk salam kepada sahabat Umar r.a dan Ali r.a. Karena permintaan itu, Uwais mendo’akan keduanya.[7]
4.    Ajaran Uwais Al-Qarani
Diantara ajaran Uwais al-Qarani yaitu, berbakti kepada ibunya, selalu berbuat baik kepada ibunya.[8] Kebaktian Uwais kepada ibunya sesuai dengan firman Allah QS. Al-Isra’: 23-24. Birrul walidain menurut al-Hasan ialah mencurahkan seluruh tenaga dan kekuatan yang dimiliki serta memberikan semua yang dimiliki oleh anak kepada kedua orang tua. Sesungguhnya Birrul walidaian merupakan suatu yang dapat mengantarkan seorang hamba ke maqam aliyah disisi Allah SWT, sebagaimana yang dialami oleh Uwais al-Qarani.[9] Nilai-nilai pendidikan birrul walidain yang termuat dalam kisah Uwais al-Qarani diantaranya adalah: berbicara lemah lembut kepada ibu, sikap baik terhadap ibu dan ikhlas. Nilai-nilai pendidikan birrul walidain yang terdapat dalam kisah Uwais al-Qarani ini dapat dijadikan referensi atau diterapkan pada anak dalam melaksanakan berbakti kepada orang tuanya. Bahasa lembut yang penuh kasih sayang serta sopan, dapat dijadikan teladan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak akan lebih baik dalam menjalankan apa yang telah Allah perintahkan, apabila sang anak tersebut memperlakukan orang tua dengan penuh kasih sayang dan dengan bahasa yang lembut maka anak tersebut juga akan merasa bahagia dan mendapat keistimewaan di hadapan Allah. Kisah Uwais al-Qarani ini sendiri dapat dijadikan sebagai gambaran dan pembelajaran bagi setiap anak di dalam kehidupan sekarang dan yang akan datang.[10]
Disamping uwais al-Qarani menjadi sosok tauladan di zamannya sebab kebaktian terhadap ibunya, Uwais juga salah satu tabi’in yang memiliki sifat zuhud terhadap dunia serta menjadi orang yang tidak terkenal atau tidak ternama itu lebih utama menurutnya.[11] Sifat itu bisa terlihat dari perkataan Uwais:
قَالَ : أَكُونُ فِي غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيَّ.
“Aku lebih senang hidup tidak terkenal”.[12] Kezuhudannya juga terlihat dari alat perabot rumah beliau yang amat minim serba kurang serta usang.[13] Uwais patut mendapat gelar guru besar zuhud yang sebenarnya, karena disaat namanya menjadi pembicaraan oleh penduduk, lalu penduduk pun berniat memuliakan dan mengagungkannya, beliau selalu menyingkir menuju tempat persembunyian demi menghindari kedudukan dan kekuasaan dunia.[14]
B.            Amir Bin Abdillah
1.    Biografi Amir Bin Abdillah
Amir bin Abdillah bin Qais lebih dikenal dengan nama kinayahnya yaitu ‘Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy‘ari.[15] Ayah Abu Burdah yaitu Abu Musa adalah sahabat Rasulullah SAW yang berasal dari Negara Yaman keturunan al-Asy‘ari. Abu Musa menikah dengan seorang wanita bernama Thifyah binti Damun di Bashrah. Mereka berdua dikarunia seorang anak yaitu Abu Burdah yang ayahnya menamainya dengan ‘Amir. Setelah beberapa hari dari kelahirannya, Amir disusui oleh wanita dari keturunan faqim. Ketika dia telah menginjak dewasa, ayah dari syeikh ibnu al-Garq memberikan serta memakaikan dua selimut kepada Abu Burdah, lalu besok harinya Abu Burdah ditunjukkan kepada ayahnya oleh ayah dari syeikh ibnu al-Garq ini, karena itulah ayahnya memanggilnya dengan Abu Burdah. Nama kinayah ini, telah menghapus nama aslinya yaitu Amir.[16] Ada yang mengatakan namanya adalah al-Harits.[17] Amir adalah sosok tabi’in berprofesi sebagai hakim dalam mengurusi pengadilan di kota Kuffah setelah Syuraih.[18]  Meskipun berurusan perihal politik yang berbau duniawi, tidak sedikitpun beliau tergiur dan terperdaya sebab kekuasaan yang dimilikinya. Bahkan hidupnya hanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT seperti puasa, sholat malam, dan zuhud. Dari sisi keilmuan, Amir ahli dalam ilmu fiqih. Sosok yang mengkolaborasikan antara ilmu, amal, jihad.[19] Tokoh ini semasa dengan Uwais al-Qarani dan Abi Muslim al-Khaulani. Amir wafat pada tahun 103 H di Baitul Maqdis pada masa kepemimpinan Mu’awiyah. pendapat lain mengatakan 104 H dan berumur lebih dari 80 tahun .[20]
2.    Pemikiran Amir Bin Abdillah
Dalam kitab sifah al-Shafwah diceritakan bahwasannya Amir bin Abdillah adalah seorang tabi’in yang zuhud serta telah mencapai maqam haya’ kepada Allah SWT. Hal ini dimanifestasikan disaat Amir melaksanakan sholat, lalu iblis yang berwujud seekor ular menggodanya dengan cara masuk ke dalam gamis yang beliau kenakan, tanpa ada rasa takut dan khawatir sedikitpun, beliau tetap tenggelam dalam kekhusyu’an ibadah shalatnya sampai selesai shalat, setelah itu ada seseorang yang bertanya kepada Amir: “kenapa engkau tidak menyingkirkan ularnya?”, Amir menjawab: “aku malu kepada Allah SWT jika aku takut dari selain-Nya”.[21]
Maqam haya’ dan tawakkal kepada Allah yang telah dicapai oleh tabi’in zuhud ini, tidak hanya terlihat dari satu kisah diatas. Akan tetapi ada juga kisah yang berasal dari al-Ma’la bin Iyadh bahwasannya pada suatu hari Amir bin Abdullah bertemu dengan salah satu kabilah yang terhalang oleh singa di hadapan mereka di jalan yang biasa dilalui oleh mereka, lalu Amir turun dari hewan tunggangannya. Ketika orang-orang dari kabilah ini melihat ada Amir disana, lalu mereka berkata: “wahai Amir, sungguh aku khawatir kepadamu akan singa ini”, lalu Amir berkata: “singa ini hanyalah sebagian dari singa-singa yang telah dicIptakan oleh Allah SWT, jika Allah SWT berkehendak memberikan kekuasaan kepadanya maka singa ini pasti akan menerkam kita, dan jika Allah SWT berkehendak mencegahnya maka niscaya singa ini tidak akan berbuat apa-apa”. Dengan ketawakkalannya, beliau berjalan menghadap singa tersebut dengan memegang kedua telinga dari singa itu, dengan pertolongan Allah menyingkirlah seekor singa yang ada di tengah jalan tersebut. Sehingga kafilah dengan mudah bisa lewat dan tidak terhalang lagi. Setelah urusan kafilah yang dikhawatirkan oleh seekor macan selesai, lalu Amir mengungkapkan pemikiran tasawufnya yaitu: “aku malu kepada Allah SWT, apabila Allah SWT melihat hati dan diriku yang takut kepada selain-Nya SWT”.[22]
Ibn Wahb menceritakan bahwasannya Amir bin Abdillah sosok yang ahli ibadah. Manifestasi dari perkataan Ibn Wahb ini yaitu dia melaksanakan shalat sunnah sebanyak seribu rakaat setiap hari, yang dimulai dari terbitnya matahari dengan terus menerus hingga waktu ashar. Ritual ibadah ini sudah menjadi kewajibannya. Ia tidak pernah berhenti melakukan itu kecuali kedua kaki dan betisnya telah bengkak. Pernah pada suatu hari, Amir bin Abdillah melaksanakan salat dengan hanya mencapai seratus delapan raka’at saja dalam waktu sehari semalam, lalu dengan rasa menyesal serta mencela pada dirinya, dan ia berkata: “aku adalah orang yang lengah dalam beribadah kepada Allah SWT”. Amir pernah berkata: “wahai nafsu, ketahuilah sesungguhnya aku diciptakan hanya untuk beribadah, demi Allah aku tidak akan mengerjakan sesuatu yang untuk menurutimu”.[23]
C.           Harim Bin Hayyan
1.    Biografi Harim Bin Hayyan
Harim memiliki nama lengkap Harim bin Hayyan al-Abdi al-Rab’i ada yang mengatakan al-Azdi al-Basri.[24] Harim ada yang berpendapat adalah sahabat junior[25] yang berasal dari keturunan Abdul Qais.[26] Al-Zarkasyi menyatakan dalam kitabnya al-‘Alam bahwa tidak diketahui tahun kelahirannya. Latar belakang dari nama Harim yang artinya “tua”, yaitu karena memiliki kelainan dengan bayi biasanya. Sebanya yaitu tua dikandungan ibunya selama 2 tahun sehingga gigi-gigi serinya tumbuh.[27] Al-Zarkasyi menilai bahwa Harim adalah  sosok pemimpin, penakluk musuh, dan salah satu sosok yang ahli ibadah dari kalangan tabi’in. Hidupnya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT. Ibnu Abi Hatim menganggap Harim adalah salah seorang dari delapan orang zuhud yang menghindarkan diri dari dunia.[28] Disamping itu,, Beliau juga pernah memimpin sebagian peperangan yang terjadi di masa khalifah Umar dan Utsman. Harim menetap di kota Bashrah dan meninggal pada tahun 26 H di medan perang.[29]
2.    Ajaran Harim Bin Hayyan
Tidak sedikit riwayat yang menyebutkan Harim bin Hayyan sebagai tokoh sufi dari kalangan tabi’in. Salah satu manivestasi yang menyatakan bahwa beliau adalah tokoh sufi dari kalanan tabi’in yaitu riwayat dari Ulqimah bin Mursyid, dia berkata: “Harim bin Hayyan adalah salah satu tokoh sufi yang menerapkan konsep zuhud dari kalangan tabi’in yang berjumlah delapan.[30] Menurut perspektif dan analogi penulis setelah melakukan observasi dari beberapa referensi dan ibara>t yang telah ditemukan, kezuhudan Harim bin Hayyan dapat diraih dan diperoleh dengan melalui konsep muhasabah atau intropeksi diri olehnya. Dengan muhasabah yang senantiasa dilakukan olehnya dapat menarik jasmani beliau untuk senantiasa beribadah kepada sang Maha pencipta.
Diantara muhasabah yang dilakukan oleh Harim bin Hayyan yaitu:
1). Pada suatu malam, Harim pernah menyeru dengan berteriak: aku heran dengan surga, bagaimana mungkin orang-orang yang mencarinya sedang tidur? aku heran dengan neraka, bagaimana mungkin orang-orang yang takut dengannya sedang tidur? Apakah penduduk desa sudah percaya surga atau neraka akan mendatangi mereka sendiri pada malam hari, sedang mereka tidur, atau pada pagi hari sedang mereka bermain. Seketika itu beliau bertaqarrub dan bermunajat kepada Allah SWT.[31]
2). Diriwayatkan dari Hasan, dia bercerita: Harim bin Hayyan dan Abdllah bin Amir pernah bepergian menuju kota Hijaz.  Di tengah perjalanan, unta-unta mereka diikatkan pada salah satu pohon. Akhirnya Harim bertanya kepada Ibn Amir: “apakah kamu senang menjadi salah satu di antara pepohonan ini?”, Ibn Amir menjawab: “tidak, demi Allah aku tidak berharap hal itu dari-Nya”. Lalu Harim berkata: “wahai Ibn Amir, demi Allah aku ingin menjadi salah satu pohon-pohon ini yang telah dimakan oleh unta-unta kita yang kemudian aku dibuang oleh unta ini dalam bentuk kotoran sehingga aku tidak menderita dan gelisah dengan hisab dari Allah Ta’ala”. Sungguh aku takut dengan malapetaka yang besar, baik ke surga maupun ke neraka.[32]
D.           Hasan Al-Bashri
1.    Biografi Hasan Al-Bashri
Hasan al-Bashri adalah tokoh sufi yang memiliki nama lengkap Abu Sa’id Hasan bin Yasar al-Bashri. Hasan al-Bashri dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H/110 M pada masa pemerintahan sahabat Umar r.a. Ibunya bernama Ummu Salamah. Hasan al-Bashri adalah sosok yang menyandang beberapa gelar diantaranya ahli fiqih, qira’ah, zuhud, serta ahli ibadah. Imam bagi masyarakat Bashrah dan bahkan menjadi imamnya seluruh manusia pada zamannya.[33]
2.    Ajaran Hasan Al-Bashri
Hasan al-Bashri adalah seorang zahid yang termasyhur di kalangan tabi’in. Prinsip ajarannya yang berkaitan dengan hidup kerohanian senantiasa diukurnya dengan sunnah Nabi SAW. Dasar pendirian Hasan al-Bashri adalah hidup zuhud dari kehidupan duniawi yang tahu terhadap dosanya dan yang selalu beribadah kepada Allah SWT. Tentang kehidupan zuhud beliau berkata ”dunia adalah tempat kerja bagi orang yang disertai perasaan tidak senggang dan tidak butuh kepadanya dan dunia merasa bahagia bersamanya atau dalam menyeretainya. Barang siapa menyertainya dengan perasaan ingin memilikinya dan mencintainya, dia akan dibuat menderita oleh dunia serta diantarkan pada hal-hal yang tidak tertanggungkan oleh kesabarannya”.[34]
Konsep zuhud Hasan al-Bashri berdasarkan rasa takut kepada Allah SWT. Mengenai hal ini, al-Sya’rani dalam kitabnya al-Thabaqat berkata “Dia dipenuhi rasa takut sehingga neraka hanyalah seakan untuk dirinya seorang”,[35] dan sebagaimana dikutip Prof. Dr. Hamka mengatakan, bahwa zuhud beliau itu didasarkan pada takut ialah karena takut akan siksa Allah SWT dalam neraka. Tetapi setelah ditelaah lebih dalam kata Hamka ternyata bukanlah takut akan neraka itu yang menjadi sebab akan tetapi yang menjadi sebab ialah perasaan darai orang yang berjiwa besar akan kekurangan dan kelalaian diri. Itulah sebabnya lebih dikatakan bahwa dasar zuhud Hasan al-Bashri bukanlah takut akan masuk neraka akan tetapi akan murka Allah SWT.[36]
E.  Urwah Bin Zubair
1.    Biografi Urwah Bin Zubair
Urwah bin Zubair bernama Abu Abdillah Urwah bin Zubair bin al-Awam bin Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qursyi al-Asadi. Urwah dilahirkan pada tahun 22 H. Ada yang berpendapat 26 H.[37] Urwah adalah salah satu tabi’in yang ahli dalam bidang fiqih di kota Madinah. Ayah Urwah adalah salah sahabat Nabi SAW yang dijanjikan masuk surga yaitu Zubair bin al-Awam dan ibu Urwah adalah putri dari sahabat Umar bin Khattab yang memiliki dua ikat pinggang yaitu Asma’ binti Abu Bakar al-Siddiq. Sehingga Kakeknya Urwah bin Zubair (dari jalur ibu) adalah Abu Bakar Ash-Shidiq seorang Khalifah setelah Rasulullah SAW. Sedangkan neneknya dari jalur ayah adalah Shafiyah bin Abdul Muthalib yang juga bibi Rasulullah SAW. Bibinya adalah Ummul Mukminin, Aisyah binti Abu Bakar. Sungguh garis keturunan yang mulia. Urwah Memiliki saudara kandung bernama Abdullah bin Zubair. Urwah bin Zubair adalah sosok yang alim dan senantiasa menjalankan ibadah kepada Allah SWT sehingga menjadi hamba Allah yang shalih. Urwah bin Zubair juga meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin AufZaid bin TsabitAbu Ayyub Al-AnshariUsamah bin ZaidSa’id bin ZaidAbu HurairahAbdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan masih banyak lagi.[38]
Urwah juga pernah menggali sebuah sumur di kota Madinah dan nama sumur ini dinisbatkan kepada nama beliau maka disebutlah sumur Urwah. Satu-satunya sumur yang paling segar dan airnya tawar yang berada di kota Madinah. Urwah memiliki 8 anak yaitu: Muhammad, Yahya, Utsman, Umar, Abdullah, Mus’ab, Ubaidillah, dan Hisyam. Ibu Hisyam bin Urwah bernama Sarah. Beliau wafat di sebuah desa kecil dekat kota Madinah pada tahun 93 H dalam usianya yang ke-70 tahun dalam keadaan sedang berpuasa. Hisyam bin Urwah mengatakan: “dahulu ayahku berpuasa terus-menerus (banyak berpuasa) dan meninggal dalam keadaan berpuasa. Ketika ajal menjelang, dia sedang berpuasa, lalu keluarganya memintanyanya agar berbuka saja namun dia menolak. Sungguh dia telah menolak, karena dia berharap kalau kelak dia bisa berbuka dengan seteguk air dari sungai Kautsar di dalam bejana emas dan di tangan bidadari.[39] Menurut pendapat lain wafat pada tahun 94 H. Pada tahun inilah banyak dari tabi’in yang ahli dalam fiqih meninggal dunia.[40]              
2.    Ajaran Urwah Bin Zubair
Urwah bin Zubair adalah seseorang yang ahli ibadah. Keistiqamahan dalam menjalankan ibadah kepada Allah itu yang menjadi karakteristik Urwah. Amalan yang dilakukan setiap hari oleh beliau seperti membaca seperempat al-Qur’an dalam setiap hari, qiyamul lail setiap malam kecuali satu malam dimana kaki beliau terputus, lalu beliau mengulangi di malam berikutnya.[41]
Urwah bin Zubair adalah salah seorang sufi dari kalangan tabi’in yang mengajarkan konsep tabah, sabar dan syukur dalam menuju ma’rifat billah. Ketiga konsep ajaran ini terlihat dari peristiwa diamputasinya kaki Urwah sebab tertimpa suatu penyakit kulit yang menggerogoti kaki kirinya, yang kambuh pada saat menghadiri suatu majlisnya khalifah al-Walid bin Abdul Malik yang berada di kota Syiria. Melihat kejadian itu sang khalifah memanggil seluruh Dokter yang ada di Negara itu guna mengobati tamunya. Dokter menyarankan agar kaki kiri yang terkena penyakit kulit segara diamputasi agar tidak menjalar ke aggota tubuh lainnya. Akhirnya diamputasilah kaki kiri Urwah dengan cara dipotong dengan gergaji. Menurut riwayat lain dipotong dengan besi panas. Hal itu dikarenakan keteguhan jiwa Urwah yang tidak mau dibius dengan alkohol kerena menurutnya alkohol hanya akan menghilangkan akal dan kesadarannya.[42] Meskipun Urwah menerima ujian sedemikian beratnya akan tetapi beliau lalui dengan penuh kesabaran dan ketawakalan. Baginya, ujian ini akan meninggikan derajat, menghapuskan dosa, dan memperbanyak pahala kebajikannya.
Ketika telah selesai dari proses pemotongan kaki, datanglah khalifah Al-Walid menghibur beliau. Berkatalah Urwah kepada dirinya sendiri: “ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu, dahulu aku memiliki empat anggota tubuh (dua kaki dan dua tangan), kemudian Engkau ambil satu. Walaupun Engkau telah mengambil anggota tubuhku namun Engkau masih menyisakan yang lain dan walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku namun masa sehatku masih lebih panjang darinya. Segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil dan atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku dari masa sehat.
F.   Muhammad Bin Hanafiah
1.    Biografi Muhammad Bin Hanafiah
Muhammad bin Hanafiah bernama Abu al-Qasim Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Muhammad terkenal dengan sebutan Ibnu Hanafiah. Ibu dari Muhammad bin Hanafiah bernama Khaulah binti Ja’far bin Qais bin Salamah bin Tsa’labah bin Yarbu’ bin Tsa’labah Ibnu al-Daul bin Hanifah bin Lujaim.[43] Muhammad bin Hanafiyyah lahir di akhir masa khilafah Abu Bakar al-Shiddiq. Ia tumbuh dan terdidik di bawah perawatan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, ia lulus di bawah didikannya. Putra dari Ali bin Abi Thalib ini memiliki nama yang sama dengan Rasulullah yakni Muhammad, dan memiliki julukan yang sama (Abu al-Qasim). Hal ini tidak datang begitu saja, namun memiliki asal muasal yang jelas. Pada masa detik-detik akhir kehidupan Rasulullah SAW, suatu hari Ali bin Abi Thalib duduk-duduk bersama Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya aku punya anak lagi setelah engkau tiada, bolehkah aku memberi nama anakku dengan nama engkau dan aku berikan kunyah (julukan) dengan kunyah engkau (yakni Abu al-Qasim)?” Nabi SAW bersabda: “Boleh”.[44]
Waktu bergulir, hingga akhirnya Nabi SAW wafat dan beberapa bulan kemudian disusul putrinya, Fatimah yang merupakan ibunda Hasan dan Husein. Setelah itu Ali bin Abi Thalib menikah lagi dengan seorang wanita dari Bani Hanifah bernama Khaulah binti Ja’far bin Qais al-Hanafiyyah.
Perkawinan ini melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad dan diberi julukan Abu al-Qasim dengan restu dari Rasulullah SAW sebelumnya. Namun demikian orang-orang biasa memanggilnya dengan nama Muhammad al-Hanafiyyah untuk membedakannya dari kedua saudaranya, Hasan dan Husein. Ibu keduanya adalah Fathimah az-Zahra. Sedangkan ibu beliau wanita dari al-Hanafiyah. Kemudian nama itulah yang banyak dikenal oleh sejarah.
Mengenai tahun wafatnya Muhammad bin Hanafiah para ulama berbeda pendapat. Menurut Amr bin Ali adalah 114 H. Sementara menurut al-Bukhari dan Abu Nuaim adalah 80 H.[45]
2.    Pemikiran Muhammad Bin Hanafiah
Menurut Harim bin Hayyan kesempurnaan di dunia ini ada 3: pemahaman tentang agama (tafaqquh fiddin), sabar atas bencana dan musibah, memiliki mata pencaharian yang baik.[46]
Muhammad bin Hanafiah adalah seorang yang yang tidak menginginkan kerusakan di bumi tidak pula ketinggian di antara manusia. Beliau belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya. Beliau juga menjauhi kekuasaan demi menjaga dari pertumpahan darah.

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.    Uwais al-Qarani
  Nama lengkap Uwais al-Qarani adalah Uwais bin ‘Amir bin Jazi bin Malik bin Amr bin Musa’adah bin ‘Amir bin ‘Iswan bin Qaran bin Radman. Uwais al-Qarani adalah seorang pemuda yang berasal dari Negara Yaman. Beliau adalah waliyullah yang hidup di zaman Rasulullah SAW, beriman, dan membenarkan beliau SAW sebagai nabi dan Rasul terakhir. Akan tetapi Uwais belum pernah berjumpa dan menulis hadis dari beliau SAW. Oleh karena itu Uwais tidak tergolong sahabat Rasulullah SAW.  Diantara ajaran Uwais al-Qarani yaitu, berbakti kepada ibunya, selalu berbuat baik kepada. Disamping itu, Uwais juga salah satu tabi’in yang memiliki sifat zuhud terhadap dunia.
2.    Amir Bin Abdillah
 Amir bin Abdillah bin Qais lebih dikenal dengan nama kinayahnya yaitu Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy‘ari. Amir adalah sosok tabi’in yang hidup pada tingkatan kedua setelah zaman para sahabat dan berprofesi sebagai hakim dalam mengurusi pengadilan di kota Kuffah setelah Syuraih. Abu Burdah adalah sosok tabi’in yang ahli dalam bidang fiqih selain itu ahli ibadah, puasa, sholat malam, zuhud, dan termasuk seorang yang sudah sampai maqam ma’rifat. Sosok yang mengkolaborasikan antara ilmu, amal, jihad serta sosok yang tidak tergiur sebab kekuasaan yang dimilikinya, dan tidak terperdaya oleh dunia. Abu Burdah wafat pada tahun 103 H, pendapat lain mengatakan 104 H dan berumur lebih dari 80 tahun. Pemikiran tentang tasawufnya telah disebutkan di dalam kitab sifah al-Shafwah yaitu diceritakan bahwasannya Amir bin Abdillah adalah seorang tabi’in yang zuhud serta telah mencapai maqam haya’ kepada Allah SWT. Ibn Wahb menceritakan bahwasannya Amir bin Abdillah sosok yang juga ahli ibadah. Manifestasinya adalah melaksanakan shalat sunnah sebanyak seribu rakaat setiap hari yang dimulai dari terbitnya matahari dengan terus menerus hingga waktu ashar menjadi kewajiban beliau.
3.    Harim bin Hayyan
            Harim memiliki nama lengkap Harim bin Hayyan al-‘Abdi al-Rab’i ada yang mengatakan al-Azdi al-Basri. Beliau dinamakan dengan nama Harim yang artinya tua karena memiliki kelainan dengan bayi biasanya yaitu tua dikandungan ibunya selama 2 tahun sehingga gigi-gigi serinya tumbuh. Al-Zarkasyi menilai bahwa Harim adalah  sosok pemimpin, penakluk, dan salah satu sosok yang ahli ibadah dari kalangan tabi’in. Hidupnya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT. Disamping itu,, Beliau juga pernah memimpin sebagian peperangan yang terjadi di masa khalifah Umar dan Utsman. Harim menetap di kota Bashrah dan meninggal pada tahun 26 H di medan perang.          Tidak sedikit riwayat yang menyebutkan Harim bin Hayyan sebagai tokoh sufi dari kalangan tabi’in. Salah satu manivestasi yang menyatakan bahwa beliau adalah tokoh sufi dari kalanan tabi’in yaitu riwayat dari Ulqimah bin Mursyid, dia berkata: “Harim bin Hayyan adalah salah satu tokoh sufi yang menerapkan konsep zuhud dari kalangan tabi’in yang berjumlah delapan. Menurut perspektif dan analogi penulis setelah melakukan observasi dari beberapa referensi dan ibara>t yang telah ditemukan, kezuhudan Harim bin Hayyan dapat diraih dan diperoleh dengan melalui konsep muhasabah atau intropeksi diri olehnya.
4.    Hasan al-Bashri
  Hasan al-Bashri adalah tokoh sufi yang memiliki nama lengkap Abu Sa’id Hasan bin Yasar al-Bashri. Hasan al-Bashri dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H/110 M pada masa pemerintahan sahabat Umar r.a. Hasan al-Bashri adalah sosok ahli fiqih, qira’ah, zuhud, dan ahli ibadah.    Hasan al-Bashri adalah seorang zahid yang termasyhur di kalangan tabi’in. Konsep zuhud Hasan al-Bashri berdasarkan rasa takut (khauf) kepada Allah SWT.
5.    Urwah bin Zubair
Urwah bin Zubair bernama Abu ‘Abdillah Urwah bin Zubair bin al-Awam bin Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qursyi al-Asadi. Urwah dilahirkan pada tahun 22 H. Ada yang berpendapat 26 H. Urwah bin Zubair adalah sosok yang alim dan senantiasa menjalankan ibadah kepada Allah SWT sehingga menjadi hamba Allah yang shalih. Urwah bin Zubair juga meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin AufZaid bin TsabitAbu Ayyub Al-AnshariUsamah bin ZaidSa’id bin ZaidAbu HurairahAbdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan masih banyak lagi. Beliau wafat di sebuah desa kecil dekat kota Madinah pada tahun 93 H dalam usianya yang ke-70 tahun dalam keadaan sedang berpuasa. Urwah bin Zubair adalah salah seorang sufi dari kalangan yang mengajarkan konsep tabah, sabar dan syukur dalam menuju ma’rifat billah. Ketiga konsep ajaran ini terlihat dari peristiwa diamputasinya kaki Urwah sebab tertimpa suatu penyakit kulit yang menggerogoti anggota kakinya, yang kambuh pada saat menghadiri suatu majlisnya khalifah al-Walid bin Abdul Malik yang berada di kota Syiria.
6.    Muhammad Bin Hanafiah
Muhammad bin Hanafiah bernama Abu al-Qasim Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Ibnu Hanafiah Muhammad ibn al-Hanafiyyah lahir di akhir masa khilafah Abu Bakar al-Shiddiq. Mengenai tahun wafatnya Muhammad bin Hanafiah para ulama berbeda pendapat. Menurut Amr bin Ali adalah 114 H. Sementara menurut al-Bukhari dan Abu Nuaim adalah 80 H. Muhammad bin Hanafiah adalah seorang yang yang tidak menginginkan kerusakan di bumi tidak pula ketinggian di antara manusia. Beliau belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya. Beliau juga menjauhi kekuasaan demi menjaga dari pertumpahan darah.
B.  Saran
Dalam penulisan makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan dan kesalahan, baik dari segi penulisan maupun dari segi penyusunan kalimatnya dan dari segi isi juga masih perlu ditambahkan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kepada para pembaca makalah ini agar dapat memberikan kritikan dan masukan yang bersifat membangu
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Haq bin Abdurrahman Ibnu al-Khirath (w. 581 H), Al-Ahkam al-Syar’iah al-Kubra, cet. 1, (Riyadh: Maktabah al-Rasyad, 2001).
Abdul Wahhab al-Sya’rani, Al-Tabaqat al-Kubra, (Lebanon: Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, cet. 3, 2013).
Abdurrahman al-Suhaim, Ithaf al-Kiram bisyarhi ‘umd al-Ahkam, Maktabah al-Syamilah.
Abdurrahman bin Ali bin Muhammad, Sifah al-Shofwah, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet. 2, 1979).
Abi Usamah Muhammad bin Salim bin Ali Jabir, Al-Dar wa al-Yaqut fi tarajimi ‘a’lam al-Muhadditsin min hadramaut.
Abu al-Abbas, Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakar bin Khalkan, Wafiat al-A’yan, (Beirut: Dar Shadir, 1990).
Abu al-Fadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh (w. 544 H), Ikmal al-Mu’lim bifawaid Muslim, (Mesir: Dar al-Wafa’, 1998).
Abu al-Farj Abdurrahman Ibn al-Jauzi, Talqih fuhum ahl al-Atsar fi uyun al-Tarikh wa al-Sair, (Beirut: Syirkah Dar al-Arqam, 1997).
Abu Bakar Muhammad bin Khalaf al-Dhobbi al-Baghdadi (w. 306 H), Akhbar al-Qudhah, cet. 1, (ttp: Al-Maktabah al-Tajariah al-Kubra, 1947).
Abu Hafs Umar bin Ibrahim al-Hafidz, Al-Mufham lima usykila min talkhisi kitabi Muslim, Maktabah al-Syamilah.
Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, Akhlak Tasawuf, edisi ke-2, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2015).
Ahmad bin Isma’il bin Yusuf al-Thaliqani al-Quzwaini, (w. 590 H), Atsar al-Balad wa akhbar al-Ibad, (ttp: Mauqi’ al-Waraq, tth), Maktabah al-Syamilah.
Al-Bari, Al-Jauharah fi nasab al-Nabi wa ashhabihi al-‘Asyrah. Maktabah al-Syamilah.
Ali bin Burhan al-Din al-Halbi, al-Sirah al-Halbiyah fi sirah al-Amin al-Ma’mun, Maktabah al-Syamilah.
Ali Muhammad Muhammad al-Sholabi, Umar bin Abd al-Aziz Mualim al-Tajdid wa al-Islah al-Rasyidi ala Minhaj al-Nubuwah, juz 2, hal 212.
Al-Nawawi, Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), Maktabah al-Syamilah, juz 1, hal 103.
Al-Sifdi, Al-Wafi bil Wafiat. Maktabah al-Syamilah.
Atiyah bin Muhammad Salim (w. 1420 H), Syarh al-Arbain al-Nawawiah, Maktabah al-Syamilah.
Fuad Sazkin, Tarikh al-Turats al-Arabi, Maktabah al-Syamilah.
Ibnu al-‘Adim, Bughyah al-Talb fi tarikh halb, (tp, tt, tth), Maktabah al-Syamilah
Ibnu Mandzur, Mukhtasar Tarikh. Maktabah al-Syamilah.
Ibnu Taghri Bardi, Al-Nujum al-Zahirah. Maktabah al-Syamilah.
Ibnu Qutaibah al-Dainuri, Al-Ma’arif. Maktabah al-Syamilah.
Khairuddin bin Mahmud bin Muhammad bin Ali bin Faris al-Zarkali al-Damasyki (w. 1396), Al-‘A’lam, (tt: Dar al-Ilmi lil Malayin, cet. 15, 2002).
Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi, Tadzkirah al-Huffadz, Maktabah al-Syamilah, juz 1, hal 62.
Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi, Siyar a’lam al-Nubala’.
Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi, Tarikh al-Islam wa Wafiyat al-Masyahir wa al-‘A’lam, cet. 1, (Lebanon: Beirut, Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1987).




[1] Abi Usamah Muhammad bin Salim bin Ali Jabir, Al-Dar wa al-Yaqut fi tarajimi ‘a’lam al-Muhadditsin min hadramaut, Juz 1, hal 4.
[2] Abu Hafs Umar bin Ibrahim al-Hafidz, Al-Mufham lima usykila min talkhisi kitabi Muslim, Maktabah al-Syamilah, juz 21, hal 49. 
[3] Ibnu Mandzur, Mukhtasar Tarikh, juz 1, hal 63.
[4] Khairuddin bin Mahmud bin Muhammad bin Ali bin Faris al-Zarkali al-Damasyki (w. 1396), Al-‘A’lam, (tt: Dar al-Ilmi lil Malayin, cet. 15, 2002), juz 2, hal 32.
[5] Al-Sifdi, Al-Wafi bil Wafiat, Maktabah al-Syamilah,  juz 3, hal 319.
[6] Ahmad bin Isma’il bin Yusuf al-Thaliqani al-Quzwaini, (w. 590 H), Atsar al-Balad wa akhbar al-Ibad, Maktabah al-Syamilah, juz 1, hal 26. Lihat al-Sirah al-Halbiyah fi sirah al-Amin al-Ma’mun, juz 2, hal 548. Lihat Syarh al-‘Arbain al-Nawawiah, juz 4, hal 73. Lihat Ikmal al-Mu’allim bi fawaid Muslim, juz 7, hal 582. Abdurrahman bin Ali bin Muhammad, Sifah al-Shofwah, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet. 2, 1979),  juz 3, hal 45.
[7] Ahmad bin Isma’il bin Yusuf al-Thaliqani al-Quzwaini, (w. 590 H), Atsar al-Balad wa akhbar al- Ibad , (ttp: Mauqi’ al-Waraq, tth), Maktabah al-Syamilah, juz 1, hal 26
[8] Abdurrahman al-Suhaim, Ithaf al-Kiram bisyarhi ‘umd al-Ahkam, Maktabah al-Syamilah, juz 4, hal 6.
[9] Ibid.
[10] Abdul Haq bin Abdurrahman Ibnu al-Khirath (w. 581 H), Al-Ahkam al-Syar’iah al-Kubra, cet. 1, (Riyadh: Maktabah al-Rasyad, 2001), juz 4, hal 466.
[11] Ahmad bin Isma’il bin Yusuf al-Thaliqani al-Quzwaini, (w. 590 H), Atsar al-Balad wa akhbar al-Ibad, Maktabah al-Syamilah, juz 1, hal 26. Lihat al-Sirah al-Halbiyah fi sirah al-Amin al-Ma’mun, juz 2, hal 548.
[12] Abu al-Fadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh (w. 544 H), Ikmal al-Mu’lim bifawaid Muslim, (Mesir: Dar al-Wafa’, 1998), juz 7, hal 582.
[13] Abdul Wahhab al-Sya’rani, Al-Tabaqat al-Kubra, (Lebanon: Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, cet. 3, 2013), hal 42.
[14] Ahmad bin Isma’il bin Yusuf al-Thaliqani al-Quzwaini, (w. 590 H), ….., Maktabah al-Syamilah, juz 1, hal 26.
[15] Abu Bakar Muhammad bin Khalaf al-Dhobbi al-Baghdadi (w. 306 H), Akhbar al-Qudhah, cet. 1, (ttp: Al-Maktabah al-Tajariah al-Kubra, 1947), juz 2, hal 408.
[16] Al-Sifdi, ….., juz 5, hal 324.
[17] Ibnu Mandzur,…., juz 1, hal 1584.
[18] Ibnu Taghri Bardi, Al-Nujum al-Zahirah, juz 1, hal 99.
[19] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi, ….., juz 2, hal 396.
[20] Ibnu Mandzur,…., juz 1, hal 1585.
[21] Abdurrahman bin Ali bin Muhammad, Sifah al-Shofwah, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet. 2, 1979), juz 3, hal 202.
[22] Ibid.
[23] Ibid.
[24] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi, Tarikh al-Islam wa Wafiyat al-Masyahir wa al-‘A’lam, cet. 1, (Lebanon: Beirut, Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1987), juz 5, hal 533.
[25] Al-Bari, Al-Jauharah fi nasab al-Nabi wa ashhabihi al-‘Asyrah, hal 164.
[26] Khairuddin bin Mahmud bin Muhammad bin Ali bin Faris al-Zarkali al-Damasyki (w. 1396), ….., (tt: Dar al-Ilmi lil Malayin, cet. 15, 2002), juz 8, hal 82.
[27] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi, …., cet. 1, (Lebanon: Beirut, Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1987), juz 5, hal 533. Lihat Talqih fuhum ahl al-Atsar fi uyun al-Tarikh wa al-Sair karya Ibn al-Jauzi, hal 328. Lihat Siyar a’lam al-Nubala’ juz 7, hal 50.
[28] Khairuddin bin Mahmud bin Muhammad bin Ali bin Faris al-Zarkali al-Damasyki (w. 1396), ….., (tt: Dar al-Ilmi lil Malayin, cet. 15, 2002), juz 8, hal 82. Lihat tarikh al-Turats al-Arabi, hal 326.
[29] Khairuddin bin Mahmud bin Muhammad bin Ali bin Faris al-Zarkali al-Damasyki (w. 1396), ….., (tt: Dar al-Ilmi lil Malayin, cet. 15, 2002), juz 8, hal 82.
[30] Ibnu al-‘Adim, Bughyah al-Talb fi tarikh halb, (tp, tt, tth), Maktabah al-Syamilah, juz 3, hal 462. Lihat tarikh al-Turats al-Arabi, hal 326.
[31] Ibnu Mandzur, Mukhtasar Tarikh. Maktabah al-Syamilah, juz 7, hal 78.
[32] Abdurrahman, Sifah al-Safwah, vol. 3 (cet. 2, Beirut: Da>r al-Ma’rifah, 1979 M), 214.
[33] Al-Sifdi, ….., juz 4, hal 223.
[34] Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, Akhlak Tasawuf, edisi ke-2, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2015), hal 210.
[35] Abdul Wahhab al-Sya’rani, ……, (Lebanon: Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, cet. 3, 2013), hal 45
[36] Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, …., edisi ke-2, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2015), hal 211.
[37] Abu al-Abbas, Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakar bin Khalkan, Wafiat al-A’yan, (Beirut: Dar Shadir, 1990), juz 3, hal 258.
[38] Abu al-Abbas, Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakar bin Khalkan, ……, (Beirut: Dar Shadir, 1990), juz 3, hal 255. Lihat al-Ma’rif  karya Ibnu Qutaibah, juz 1, hal 51. Lihat Tadzkirah al-Hufadz,  juz 1, hal 62.
[39] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi,……, Maktabah al-Syamilah, juz 4, hal 433.
[40] Ibnu Qutaibah al-Dainuri, Al-Ma’arif, juz 1, hal 51.
[41] Abu al-Abbas, Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakar bin Khalkan, ……, (Beirut: Dar Shadir, 1990), juz 3, hal 257.
[42] Abu al-Abbas, Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakar bin Khalkan, ……, (Beirut: Dar Shadir, 1990), juz 3, hal 255. Lihat al-Ma’rif  karya Ibnu Qutaibah, juz 1, hal 51.
[43] Ibid, juz 4 hal 169.
[44] Al-Nawawi, Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), Maktabah al-Syamilah, juz 1, hal 103.
[45] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi, ……, juz 5, hal 210.
[46] Ibn Mandzur,…..., Maktabah al-Syamilah, hal 3082.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAKHASSUS TASAWUF DAN TAREKAT

SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF DI NUSANTARA Makalah Ini Diajukan Guna Memenuhi Mata Kuliah: TASAWUF NUSANTARA ...

SANTRI MENULIS