PARA TOKOH SUFI DARI KALANGAN TABI’IN:
UWAIS AL-QARANI, AMIR BIN ABDILLAH, HARIM BIN HAYYAN,
HASAN AL-BASHRI, URWAH BIN ZUBAIR, MUHAMMAD BIN HANAFIAH
Makalah
ini ditujukan untuk memenuhi mata kuliah:
SEJARAH TASAWUF
Dosen Pengampu:
Ahmad Syathori M.Fil.I.
Oleh:
Muhammad Ainur Rosy
MA’HAD ALY AL-FITHRAH
TAKHAS{S{US
TAS{AWUF DAN TAREKAT
(TAS{AWWUF WA THARIQATUHU)
Jl. Kedinding Lor No 99 Surabaya
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu tasawuf adalah sebuah ilmu yang dengannya
seseorang dapat lebih dekat dengan Tuhannya. Bahkan lebih dari itu, bagi para
sufi yang telah mencapai puncak ma’rifat billah semua hal-hal yang
nampak dan terlihat olehnya (salik) seakan-akan itu adalah Tuhannya. Ilustrasinya,
Tidak sedikit dari para tokoh ahli sufi baik dari kalangan sahabat, tabi’in,
dan tabi’it tabi’in dan seterusnya yang melontarkan perkataan seperti “ana
Allah” (aku adalah tuhan), dan semisalnya. Perkataan seperti ini bukan karena
ada tujuan meremehkan, ataupun unsur lainnya. Melainkan seorang sufi yang
melontarkan perkataan seperti itu memang benar-benar sudah sampai maqam puncak
ma’rifat yang dalam istilah tasawuf disebut dengan wuhdah al-Wujud.
Dalam perjalanan seorang salik untuk meraih sebuah mutiara kehidupan
yaitu sebuah hakekat dapat diraih dengan beberapa cara, seperti zuhud, wara’,
sabar, muhasabah, dan lain-lain. Hal ini termanivestasikan dengan perjalanan
spiritual yang telah dilalui oleh para tokoh sufi dari kalangan tabi’in dan
tabi’it tabi’in. Dalam penulisan makalah kali ini, penulis akan memaparkan biografi
tokoh para sufi dari kalangan tabi’in dan tabi’it tabi’in beserta pemikiran dan
ajarannya.
B. Rumusan Masalah
1.
Siapakah Uwais al-Qarani?
2.
Siapakah Amir bin Abdillah?
3.
Siapakah Harim bin Hayyan?
4.
Siapakah Hasan al-Bashri?
5.
Siapakah Urwah bin Zubair?
6.
Siapakah Muhamad bin Hanafiah?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui
siapakah Uwais al-Qarani tersebut.
2. Untuk mengetahui
siapakah Amir bin Abdillah tersebut.
3. Untuk mengetahui
siapakah Harim bin Hayyan tersebut.
4. Untuk mengetahui
siapakah Hasan al-Bashri tersebut.
5. Untuk mengetahui
siapakah Urwah bin Zubair tersebut.
6. Untuk mengetahui
siapakah Muhammad bin Hanafiah tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Uwais Al-Qarani
1.
Biografi Uwais Al-Qarani
Nama lengkap Uwais al-Qarani adalah Uwais bin Amir bin Jazi bin Malik bin Amr
bin Musa’adah bin Amir bin Iswan bin Qaran bin Radman.
Qarn
adalah salah satu suku dari kabilah yang terkenal di Arab bernama Murad. Uwais al-Qarani adalah seorang pemuda yang berasal dari Negara Yaman. Beliau adalah waliyullah
yang hidup di zaman
Rasulullah SAW, beriman, dan membenarkan beliau SAW sebagai nabi dan Rasul
terakhir. Akan tetapi Uwais belum pernah berjumpa dan menulis hadis dari beliau
SAW. Oleh karena itu Uwais tidak tergolong sahabat Rasulullah SAW. Rasulullah SAW
menginformasikan bahwasannya Uwais adalah tokoh sufi dari kalangan tabi’in.
Karena kesufiannya itu Rasulullah SAW menetapkan bahwasannya Uwais al-Qarani adalah
sebaik-baiknya laki-laki
dari kalangan tabi’in.
Rumah yang ditempatinya sangatlah sederhana. Dia tinggal di tanah yang tandus
dan di gurun pasir yang menghampar di rumahnya. Uwais
wafat di medan perang bersama sayyidina Ali k.w di perang shifin dalam keadaan
syahid pada tahun 37 H.
2.
Ciri-Ciri Uwais Al-Qarani=latar belakang ditulisnya
ciri2 Uwais
Seandainya Rasulullah SAW tidak menjelaskan sifat dan kepribadian
Uwais niscaya para sahabat tidak akan mengetahui bahwa masih ada seseorang di dunia ini yang seperti Uwais. Rasulullah SAW menjelaskan tentang sifat-sifat Uwais
al-Qarani.
Rasulullah SAW bersabda: “wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah SWT mencintai makhluk-Nya
yang bersih hatinya, tersembunyi, baik, rambutnya acak-acakan, wajahnya
berdebu, perutnya kosong dari makanan kecuali dari hasil pekerjaan yang halal,
orang-orang yang apabila meminta izin kepada para penguasa maka tidak
diizinkan, jika melamar wanita-wanita yang menawan maka mereka tidak mau
menikah. Jika tidak ada,
mereka
tidak mencari.
Ketika hadir, mereka tidak mengundang.
Apabila muncul, kemunculannya tidak disikapi dengan kegembiraan. Apabila sakit,
mereka tidak menjenguk
dan apabila
mati, tidak dihadiri prosesi pemakamannya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana kita dapat menjadi bagian
dari mereka?” Rasulullah SAW
menjawab: “orang itu memiliki nama Uwais al-Qarani yang berasal dari kota yaman.”
Para sahabat bertanya, ”apa
ciri-ciri orang yang bernama Uwais al-Qarani?”
Rasulullah SAW menjawab,” Seorang yang warna bola matanya bercampur antara biru
dan merah, mempunyai warna kekuning-kuningan, berbahu lebar, berbadan tegap,
warna kulitnya terang, dagunya sejajar dengan dadanya, menundukan dagunya
ketempat sujudnya, meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya, membaca
al-Qur’an lalu menangis, mengenakan sarung dari wol, pakaian atasnya dari wol,
tidak dikenal penghuni bumi, terkenal dikalangan penghuni langit, apabila
bersumpah atas nama Allah SWT maka ia pasti memenuhi sumpahnya. Sungguh dibawah
bahu kirinya ada cahaya berwarna putih. Sungguh, ketika hari kiamat diperintahkan
kepada para hamba, “Masuklah kalian ke dalam surga.” Dikatakan
kepada Uwais, “berhentilah”. Berilah syafa’at lalu Allah SWT memberikan hak
syafaat kepadanya untuk menolong sejumlah orang dari suku Rabi’ah dan Mudhar
(dua kabilah bangsa Arab). Wahai Umar, wahai Ali, apabila kalian berdua bertemu
dengannya maka mintalah kepadanya agar kiranya ia memintakan ampunan untuk
kalian, maka Allah SWT akan mengampuni kalian berdua”.
3.
Kisah Perjumpaan Antara Uwais Al-Qarani Dengan Umar R.A
Dan Ali R.A
Hari berjalan demi
hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun telah dilalui oleh kedua sahabat Nabi SAW yaitu Umar dan Ali
dalam mencari Uwais, sampai 20 tahun
beliau berdua mencari Uwais Pada tahun
itu, sahabat Umar r.a dan Ali r.a sedang mencari dengan berdiri dan memaggil
para jamaah haji dengan suara yang lantang dan keras, Ali r.a. seraya bertanya:
“wahai para jama’ah yang berasal dari yaman, apakah diantara kalian ada yang
bernama Uwais?”, Lalu berdirilah seorang yang sangat tua dan menjawab: “saya
tidak tahu siapa Uwais yang kalian maksudkan, akan tetapi saya memiliki
keponakan laki-laki yang bernama Uwais, dia tidak dikenal, miskin, dan serba
kurang dan rendah untuk dihaturkan kepada kalian, serta dia juga mengembala unta”. Lalu Umar r.a berkata: “justru keponakanmu itu yang
sedang kami
maksud.” Lalu Umar r.a bertanya kembali: “dia sekarang
mengembala dimana?, Orang tua tersebut menjawab: “dia sedang mengembala di
pohon arak yang biasa dijadikan sebagai tempat pengembalaan. Umar r.a dan Ali
r.a bergegas menemuinya.
Setelah sampai di tempat yang ditunjukkan oleh orang tua itu ternyata ditemuinya
Uwais sedang berdiri di sebelah pohon dengan tenggelam dalam kekhusyuan
shalatnya dan untanya berada didekatnya. Setelah selesai shalat, lalu kedua
sahabat Rasul tersebut langsung menghadapnya dan beruluk salam. Uwais menjawab
salam dari keduanya. Lalu Umar r.a dan Ali r.a bertanya kepada Uwais: “apakah
engkau orang yang mengembala unta?”, Uwais menjawab: “ya”, Keduanya bertanya
kembali: “siapa namamu?”, Abdullah, ujar Uwais. Lalu keduanya melontarkan
pertanyaan kembali: “apakah namamu ini adalah nama yang telah diberikan oleh
ibumu?”, Uwais tidak menjawab ya atau tidak, akan tetapi Uwais langsung
menanyakan apa tujuan mereka berdua datang kepadanya. keduanya menjawab:
“Rasulullah SAW telah memberikan ciri-ciri Uwais al-Qarani kepada kami, dan
sunguh kami telah mengetahui bahwa dia memiliki warna bola mata
bercampur antara biru dan merah
yaitu
warna kekuning-kuningan,
dibawah
bahu kirinya ada cahaya berwarna putih. Lalu Uwais menunjukkan bahunya, ketika tampak cahaya yang berkilau
seketika itu kedua sahabat Rasul ini bergegas menghadap dan berkata kepada
Uwais: “kami yakin bahwa engkau adalah Uwais, mintakanlah ampunan untuk kami
wahai Uwais”. Lalu Uwais berkata: “tidaklah aku mengkhususkan istighfarku
kepada diriku sendiri dan tidak pula kepada manusia akan tetapi istihfarku
tersebut berlaku kepada semua hewan yang ada di laut dan seluruh orang mukmin
dan muslim di darat”. Wahai kalian berdua, sungguh Allah telah mengenalkan
kepada kalian tentang keadaanku dan memberitahukan urusanku, lantas siapakah
kalian berdua?, Ali r.a menjawab: “ini adalah Umar amirul mu’min, dan aku
adalah Ali bin Abi Thalib. Lalu Uwais baru mengetahui keduanya, dan Uwais
beruluk salam kepada sahabat Umar r.a dan Ali r.a. Karena permintaan itu, Uwais
mendo’akan keduanya.
4. Ajaran Uwais Al-Qarani
Diantara ajaran Uwais al-Qarani yaitu,
berbakti kepada ibunya, selalu berbuat baik kepada ibunya.
Kebaktian Uwais kepada ibunya sesuai dengan firman Allah QS. Al-Isra’: 23-24. Birrul
walidain menurut al-Hasan ialah mencurahkan seluruh tenaga dan kekuatan
yang dimiliki serta memberikan semua yang dimiliki oleh anak kepada kedua orang
tua. Sesungguhnya Birrul
walidaian merupakan suatu yang dapat mengantarkan seorang hamba
ke maqam aliyah disisi Allah SWT, sebagaimana yang dialami oleh Uwais
al-Qarani.
Nilai-nilai
pendidikan birrul walidain yang termuat dalam kisah Uwais al-Qarani diantaranya adalah: berbicara
lemah lembut kepada ibu, sikap baik terhadap ibu dan ikhlas. Nilai-nilai
pendidikan birrul walidain yang terdapat dalam kisah Uwais al-Qarani ini
dapat dijadikan referensi atau diterapkan pada anak dalam melaksanakan berbakti
kepada orang tuanya. Bahasa lembut yang penuh kasih sayang serta sopan, dapat
dijadikan teladan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak akan
lebih baik dalam menjalankan apa yang telah Allah perintahkan, apabila sang
anak tersebut memperlakukan orang tua dengan penuh kasih sayang dan dengan
bahasa yang lembut maka anak tersebut juga akan merasa bahagia dan mendapat
keistimewaan di hadapan Allah. Kisah Uwais al-Qarani ini sendiri dapat
dijadikan sebagai gambaran dan pembelajaran bagi setiap anak di dalam kehidupan
sekarang dan yang akan datang.
Disamping uwais al-Qarani menjadi sosok tauladan di
zamannya sebab kebaktian
terhadap ibunya, Uwais juga salah satu tabi’in yang memiliki sifat zuhud
terhadap dunia serta menjadi orang yang tidak terkenal atau
tidak ternama itu lebih utama
menurutnya. Sifat itu bisa terlihat dari perkataan Uwais:
قَالَ : أَكُونُ فِي غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيَّ.
“Aku lebih senang hidup tidak terkenal”.
Kezuhudannya juga terlihat dari alat perabot rumah beliau yang
amat minim serba kurang serta usang.
Uwais patut mendapat gelar guru besar zuhud yang sebenarnya, karena disaat
namanya menjadi pembicaraan oleh penduduk, lalu penduduk pun berniat memuliakan
dan mengagungkannya, beliau selalu menyingkir menuju tempat persembunyian demi
menghindari kedudukan dan kekuasaan dunia.
B.
Amir Bin Abdillah
1.
Biografi Amir Bin Abdillah
Amir bin Abdillah
bin Qais lebih dikenal dengan nama kinayahnya yaitu ‘Abu Burdah bin Abu Musa
al-Asy‘ari. Ayah
Abu Burdah yaitu Abu Musa adalah sahabat Rasulullah SAW yang berasal dari Negara
Yaman keturunan al-Asy‘ari. Abu Musa menikah dengan seorang wanita bernama
Thifyah binti Damun di Bashrah. Mereka berdua dikarunia seorang anak yaitu Abu
Burdah yang ayahnya menamainya dengan ‘Amir. Setelah beberapa hari dari
kelahirannya, Amir disusui oleh wanita dari keturunan faqim. Ketika dia telah
menginjak dewasa, ayah dari syeikh ibnu al-Garq memberikan serta memakaikan dua
selimut kepada Abu Burdah, lalu besok harinya Abu Burdah ditunjukkan kepada
ayahnya oleh ayah dari syeikh ibnu al-Garq ini, karena itulah ayahnya
memanggilnya dengan Abu Burdah. Nama kinayah ini, telah menghapus nama aslinya
yaitu Amir. Ada
yang mengatakan namanya adalah al-Harits.
Amir adalah sosok tabi’in berprofesi sebagai hakim dalam mengurusi pengadilan di
kota Kuffah setelah Syuraih. Meskipun berurusan perihal politik yang
berbau duniawi, tidak sedikitpun beliau tergiur dan terperdaya sebab kekuasaan
yang dimilikinya. Bahkan hidupnya hanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah
SWT seperti puasa, sholat malam, dan zuhud. Dari sisi keilmuan, Amir
ahli dalam ilmu fiqih. Sosok yang mengkolaborasikan antara ilmu, amal, jihad.
Tokoh
ini semasa dengan Uwais al-Qarani dan Abi Muslim al-Khaulani. Amir wafat pada tahun 103 H di
Baitul Maqdis pada masa kepemimpinan Mu’awiyah. pendapat lain mengatakan 104 H dan berumur lebih
dari 80 tahun .
2.
Pemikiran Amir Bin Abdillah
Dalam kitab
sifah al-Shafwah diceritakan bahwasannya Amir bin Abdillah adalah
seorang tabi’in yang zuhud serta telah mencapai maqam haya’ kepada Allah
SWT. Hal ini dimanifestasikan disaat Amir melaksanakan sholat, lalu iblis yang
berwujud seekor ular menggodanya dengan cara masuk ke dalam gamis yang beliau
kenakan, tanpa ada rasa takut dan khawatir sedikitpun, beliau tetap tenggelam
dalam kekhusyu’an ibadah shalatnya sampai selesai shalat, setelah itu ada
seseorang yang bertanya kepada Amir: “kenapa engkau tidak menyingkirkan
ularnya?”, Amir menjawab: “aku malu kepada Allah SWT jika aku takut dari
selain-Nya”.
Maqam haya’
dan tawakkal kepada Allah yang telah dicapai oleh tabi’in zuhud ini,
tidak hanya terlihat dari satu kisah diatas. Akan tetapi ada juga kisah yang
berasal dari al-Ma’la bin Iyadh bahwasannya pada suatu hari Amir bin Abdullah
bertemu dengan salah satu kabilah yang terhalang oleh singa di hadapan mereka
di jalan yang biasa dilalui oleh mereka, lalu Amir turun dari hewan
tunggangannya. Ketika orang-orang dari kabilah ini melihat ada Amir disana,
lalu mereka berkata: “wahai Amir, sungguh aku khawatir kepadamu akan singa ini”,
lalu Amir berkata: “singa ini hanyalah sebagian dari singa-singa yang telah dicIptakan
oleh Allah SWT, jika Allah SWT berkehendak memberikan kekuasaan kepadanya maka
singa ini pasti akan menerkam kita, dan jika Allah SWT berkehendak mencegahnya
maka niscaya singa ini tidak akan berbuat apa-apa”. Dengan ketawakkalannya,
beliau berjalan menghadap singa tersebut dengan memegang kedua telinga dari
singa itu, dengan pertolongan Allah menyingkirlah seekor singa yang ada di
tengah jalan tersebut. Sehingga kafilah dengan mudah bisa lewat dan tidak
terhalang lagi. Setelah urusan kafilah yang dikhawatirkan oleh seekor macan
selesai, lalu Amir mengungkapkan pemikiran tasawufnya yaitu: “aku malu kepada
Allah SWT, apabila Allah SWT melihat hati dan diriku yang takut kepada
selain-Nya SWT”.
Ibn Wahb
menceritakan bahwasannya Amir bin Abdillah sosok yang ahli ibadah. Manifestasi
dari perkataan Ibn Wahb ini yaitu dia melaksanakan shalat sunnah sebanyak seribu
rakaat setiap hari, yang dimulai dari terbitnya matahari dengan terus menerus hingga
waktu ashar. Ritual ibadah ini sudah menjadi kewajibannya. Ia
tidak pernah berhenti melakukan itu kecuali kedua kaki dan betisnya telah
bengkak. Pernah pada suatu hari, Amir bin Abdillah melaksanakan salat dengan
hanya mencapai seratus delapan raka’at saja dalam waktu sehari semalam, lalu dengan
rasa menyesal serta mencela pada dirinya, dan ia berkata: “aku adalah orang
yang lengah dalam beribadah kepada Allah SWT”. Amir pernah berkata: “wahai nafsu, ketahuilah
sesungguhnya aku diciptakan hanya untuk beribadah, demi Allah aku tidak akan
mengerjakan sesuatu yang untuk menurutimu”.
C.
Harim Bin Hayyan
1.
Biografi Harim Bin Hayyan
Harim memiliki nama lengkap Harim bin Hayyan al-Abdi
al-Rab’i ada yang mengatakan al-Azdi al-Basri.
Harim ada yang berpendapat adalah sahabat junior
yang berasal dari keturunan Abdul Qais.
Al-Zarkasyi menyatakan dalam kitabnya al-‘Alam bahwa tidak diketahui
tahun kelahirannya. Latar belakang dari nama Harim yang artinya “tua”, yaitu karena
memiliki kelainan dengan bayi biasanya. Sebanya yaitu tua dikandungan ibunya
selama 2 tahun sehingga gigi-gigi serinya tumbuh.
Al-Zarkasyi menilai bahwa Harim adalah
sosok pemimpin, penakluk musuh, dan salah satu sosok yang ahli ibadah
dari kalangan tabi’in. Hidupnya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Ibnu Abi Hatim menganggap Harim adalah
salah seorang dari delapan orang zuhud yang menghindarkan diri dari dunia.
Disamping itu,,
Beliau juga pernah memimpin sebagian peperangan yang terjadi di masa khalifah
Umar dan Utsman. Harim menetap di kota Bashrah dan meninggal pada tahun 26 H di
medan perang.
2.
Ajaran Harim Bin Hayyan
Tidak
sedikit riwayat yang menyebutkan Harim bin Hayyan sebagai tokoh sufi dari
kalangan tabi’in. Salah satu manivestasi yang menyatakan bahwa beliau adalah
tokoh sufi dari kalanan tabi’in yaitu riwayat dari Ulqimah bin Mursyid, dia
berkata: “Harim bin Hayyan adalah salah satu tokoh sufi yang menerapkan konsep zuhud
dari kalangan tabi’in yang berjumlah delapan.
Menurut perspektif dan analogi penulis setelah melakukan observasi dari beberapa
referensi dan ibara>t yang telah ditemukan, kezuhudan Harim bin Hayyan dapat
diraih dan diperoleh dengan melalui konsep muhasabah atau intropeksi
diri olehnya. Dengan muhasabah yang senantiasa dilakukan olehnya dapat menarik
jasmani beliau untuk senantiasa beribadah kepada sang Maha pencipta.
Diantara muhasabah
yang dilakukan oleh Harim bin Hayyan yaitu:
1). Pada suatu malam, Harim pernah menyeru dengan berteriak: “aku heran dengan surga, bagaimana mungkin orang-orang yang
mencarinya sedang tidur? aku
heran dengan neraka, bagaimana
mungkin
orang-orang yang takut dengannya sedang tidur? Apakah penduduk desa sudah
percaya surga atau neraka akan mendatangi mereka sendiri pada malam hari,
sedang mereka tidur, atau
pada pagi hari sedang
mereka bermain”. Seketika itu beliau bertaqarrub dan bermunajat
kepada Allah SWT.
2). Diriwayatkan dari Hasan, dia bercerita: Harim bin Hayyan dan
Abdllah bin Amir pernah bepergian menuju kota Hijaz. Di tengah perjalanan, unta-unta mereka
diikatkan pada salah satu pohon. Akhirnya Harim bertanya kepada Ibn Amir:
“apakah kamu senang menjadi salah satu di antara pepohonan ini?”, Ibn Amir
menjawab: “tidak, demi Allah aku tidak berharap hal itu dari-Nya”. Lalu Harim
berkata: “wahai Ibn Amir, demi Allah aku ingin menjadi salah satu pohon-pohon
ini yang telah dimakan oleh unta-unta kita yang kemudian aku dibuang oleh unta
ini dalam bentuk kotoran sehingga aku tidak menderita dan gelisah dengan hisab
dari Allah Ta’ala”. Sungguh aku takut dengan malapetaka yang besar, baik ke surga
maupun ke neraka.
D.
Hasan Al-Bashri
1.
Biografi Hasan Al-Bashri
Hasan
al-Bashri adalah tokoh sufi yang memiliki nama lengkap Abu Sa’id Hasan bin
Yasar al-Bashri. Hasan al-Bashri dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H/110 M
pada masa pemerintahan sahabat Umar r.a. Ibunya bernama Ummu Salamah. Hasan
al-Bashri adalah sosok yang menyandang beberapa gelar diantaranya ahli fiqih,
qira’ah, zuhud, serta ahli ibadah. Imam bagi masyarakat Bashrah dan bahkan
menjadi imamnya seluruh manusia pada zamannya.
2.
Ajaran Hasan Al-Bashri
Hasan
al-Bashri adalah seorang zahid yang termasyhur di kalangan tabi’in. Prinsip
ajarannya yang berkaitan dengan hidup kerohanian senantiasa diukurnya dengan
sunnah Nabi SAW. Dasar pendirian Hasan al-Bashri adalah hidup zuhud dari
kehidupan duniawi yang tahu terhadap dosanya dan yang selalu beribadah kepada
Allah SWT. Tentang kehidupan zuhud beliau berkata ”dunia adalah tempat kerja
bagi orang yang disertai perasaan tidak senggang dan tidak butuh kepadanya dan
dunia merasa bahagia bersamanya atau dalam menyeretainya. Barang siapa
menyertainya dengan perasaan ingin memilikinya dan mencintainya, dia akan
dibuat menderita oleh dunia serta diantarkan pada hal-hal yang tidak
tertanggungkan oleh kesabarannya”.
Konsep
zuhud Hasan al-Bashri berdasarkan rasa takut kepada Allah SWT. Mengenai hal
ini, al-Sya’rani dalam kitabnya al-Thabaqat berkata “Dia dipenuhi rasa takut
sehingga neraka hanyalah seakan untuk dirinya seorang”,
dan sebagaimana dikutip Prof. Dr. Hamka mengatakan, bahwa zuhud beliau itu
didasarkan pada takut ialah karena takut akan siksa Allah SWT dalam neraka.
Tetapi setelah ditelaah lebih dalam kata Hamka ternyata bukanlah takut akan
neraka itu yang menjadi sebab akan tetapi yang menjadi sebab ialah perasaan
darai orang yang berjiwa besar akan kekurangan dan kelalaian diri. Itulah
sebabnya lebih dikatakan bahwa dasar zuhud Hasan al-Bashri bukanlah takut akan
masuk neraka akan tetapi akan murka Allah SWT.
E. Urwah Bin Zubair
1.
Biografi Urwah Bin Zubair
Urwah bin Zubair bernama Abu Abdillah Urwah bin Zubair
bin al-Awam bin Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushai bin Kilab
al-Qursyi al-Asadi. Urwah dilahirkan pada tahun 22 H. Ada yang berpendapat 26
H.
Urwah adalah salah satu tabi’in yang ahli dalam bidang fiqih di kota Madinah.
Ayah Urwah adalah salah sahabat Nabi SAW yang dijanjikan masuk surga yaitu
Zubair bin al-Awam dan ibu Urwah adalah putri dari sahabat Umar bin Khattab
yang memiliki dua ikat pinggang yaitu Asma’ binti Abu Bakar al-Siddiq. Sehingga
Kakeknya Urwah bin Zubair (dari jalur ibu) adalah Abu Bakar Ash-Shidiq seorang
Khalifah setelah Rasulullah SAW. Sedangkan
neneknya dari jalur ayah adalah Shafiyah bin Abdul Muthalib yang juga bibi
Rasulullah SAW.
Bibinya adalah Ummul Mukminin, Aisyah binti Abu Bakar. Sungguh
garis keturunan yang mulia.
Urwah Memiliki
saudara kandung bernama Abdullah bin Zubair. Urwah bin Zubair adalah sosok yang
alim
dan senantiasa menjalankan ibadah kepada Allah SWT sehingga menjadi hamba Allah
yang shalih. Urwah bin Zubair juga meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi
Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub Al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan masih banyak lagi.
Urwah juga
pernah menggali sebuah sumur di kota Madinah dan nama sumur ini dinisbatkan
kepada nama beliau maka disebutlah sumur Urwah. Satu-satunya sumur yang paling
segar dan airnya tawar yang berada di kota Madinah. Urwah memiliki 8 anak
yaitu: Muhammad, Yahya, Utsman, Umar, Abdullah, Mus’ab, Ubaidillah, dan Hisyam.
Ibu Hisyam bin Urwah bernama Sarah. Beliau wafat di sebuah desa kecil dekat
kota Madinah pada tahun 93 H dalam usianya yang ke-70 tahun
dalam keadaan sedang berpuasa. Hisyam bin Urwah mengatakan: “dahulu ayahku berpuasa terus-menerus
(banyak berpuasa) dan meninggal dalam keadaan berpuasa. Ketika ajal menjelang,
dia sedang berpuasa, lalu keluarganya memintanyanya agar berbuka saja namun dia
menolak. Sungguh dia telah menolak, karena dia berharap kalau kelak dia bisa berbuka
dengan seteguk air dari sungai Kautsar di dalam bejana emas dan di tangan
bidadari”. Menurut pendapat lain wafat pada
tahun 94 H. Pada tahun inilah banyak dari tabi’in yang ahli dalam fiqih
meninggal dunia.
2.
Ajaran Urwah Bin Zubair
Urwah bin
Zubair adalah seseorang yang ahli ibadah. Keistiqamahan dalam menjalankan
ibadah kepada Allah itu yang menjadi karakteristik Urwah. Amalan yang dilakukan
setiap hari oleh beliau seperti membaca seperempat al-Qur’an dalam setiap hari,
qiyamul lail setiap malam kecuali satu malam dimana kaki beliau
terputus, lalu beliau mengulangi di malam berikutnya.
Urwah bin Zubair adalah salah seorang sufi dari
kalangan tabi’in yang mengajarkan konsep tabah, sabar dan syukur dalam menuju ma’rifat
billah. Ketiga konsep ajaran ini terlihat dari peristiwa diamputasinya kaki
Urwah sebab tertimpa suatu penyakit kulit yang menggerogoti kaki kirinya, yang kambuh pada saat menghadiri suatu majlisnya khalifah al-Walid bin Abdul
Malik yang berada di kota Syiria.
Melihat kejadian itu sang khalifah memanggil seluruh Dokter yang ada di Negara
itu guna mengobati tamunya. Dokter menyarankan agar kaki kiri yang terkena
penyakit kulit segara diamputasi agar tidak menjalar ke aggota tubuh lainnya.
Akhirnya diamputasilah kaki kiri Urwah dengan cara dipotong dengan gergaji.
Menurut riwayat lain dipotong dengan besi panas. Hal itu dikarenakan keteguhan
jiwa Urwah yang tidak mau dibius dengan alkohol kerena menurutnya alkohol hanya
akan menghilangkan akal dan kesadarannya.
Meskipun Urwah menerima ujian sedemikian beratnya akan tetapi beliau lalui dengan
penuh kesabaran dan ketawakalan. Baginya, ujian ini akan meninggikan derajat,
menghapuskan dosa, dan memperbanyak pahala kebajikannya.
Ketika
telah selesai dari proses pemotongan kaki, datanglah khalifah Al-Walid
menghibur beliau. Berkatalah Urwah kepada dirinya sendiri: “ya Allah, segala
puji hanya untuk-Mu, dahulu aku memiliki empat anggota tubuh (dua kaki dan dua
tangan), kemudian Engkau ambil satu. Walaupun Engkau telah mengambil anggota
tubuhku namun Engkau masih menyisakan yang lain dan walaupun Engkau telah
memberikan musibah kepadaku namun masa sehatku masih lebih panjang darinya.
Segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil dan atas apa yang
telah Engkau berikan kepadaku
dari masa sehat.
F.
Muhammad Bin Hanafiah
1.
Biografi Muhammad Bin Hanafiah
Muhammad
bin Hanafiah bernama Abu al-Qasim Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Muhammad
terkenal dengan sebutan Ibnu Hanafiah. Ibu dari Muhammad bin Hanafiah bernama
Khaulah binti Ja’far bin Qais bin Salamah bin Tsa’labah bin Yarbu’ bin
Tsa’labah Ibnu al-Daul bin Hanifah bin Lujaim.
Muhammad bin Hanafiyyah
lahir di akhir masa khilafah Abu Bakar al-Shiddiq. Ia tumbuh
dan terdidik di bawah perawatan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, ia lulus di bawah
didikannya. Putra dari Ali bin Abi
Thalib ini memiliki nama yang sama dengan Rasulullah yakni Muhammad, dan
memiliki julukan yang sama (Abu
al-Qasim). Hal ini tidak datang begitu
saja, namun memiliki asal muasal yang jelas. Pada masa detik-detik akhir
kehidupan Rasulullah SAW, suatu hari Ali bin Abi Thalib duduk-duduk bersama
Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya aku punya anak lagi
setelah engkau tiada, bolehkah aku memberi nama anakku dengan nama engkau dan aku
berikan kunyah (julukan) dengan kunyah engkau (yakni Abu al-Qasim)?” Nabi SAW bersabda:
“Boleh”.
Waktu bergulir, hingga
akhirnya Nabi SAW wafat dan beberapa bulan kemudian disusul putrinya, Fatimah
yang merupakan ibunda Hasan dan Husein. Setelah itu Ali bin Abi Thalib menikah
lagi dengan seorang wanita dari Bani Hanifah bernama Khaulah binti Ja’far bin
Qais al-Hanafiyyah.
Perkawinan ini melahirkan
seorang bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad dan diberi julukan Abu
al-Qasim dengan restu dari Rasulullah SAW sebelumnya. Namun demikian
orang-orang biasa memanggilnya dengan nama Muhammad al-Hanafiyyah untuk
membedakannya dari kedua saudaranya, Hasan dan Husein. Ibu keduanya adalah
Fathimah az-Zahra. Sedangkan ibu beliau wanita dari al-Hanafiyah. Kemudian nama
itulah yang banyak dikenal oleh sejarah.
Mengenai tahun wafatnya
Muhammad bin Hanafiah para ulama berbeda pendapat. Menurut Amr bin Ali adalah
114 H. Sementara menurut al-Bukhari dan Abu Nuaim adalah 80 H.
2. Pemikiran
Muhammad Bin Hanafiah
Menurut
Harim bin Hayyan kesempurnaan di dunia ini ada 3: pemahaman tentang agama (tafaqquh
fiddin), sabar atas bencana dan musibah, memiliki mata pencaharian yang
baik.
Muhammad
bin Hanafiah adalah seorang yang yang tidak menginginkan kerusakan di
bumi tidak pula ketinggian di antara manusia. Beliau belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya. Beliau juga
menjauhi kekuasaan demi menjaga dari pertumpahan darah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Uwais al-Qarani
Nama lengkap Uwais al-Qarani adalah Uwais bin ‘Amir bin Jazi bin Malik bin Amr
bin Musa’adah bin ‘Amir bin ‘Iswan bin Qaran bin Radman. Uwais al-Qarani adalah seorang pemuda yang berasal dari Negara Yaman. Beliau adalah waliyullah
yang hidup di zaman
Rasulullah SAW, beriman, dan membenarkan beliau SAW sebagai nabi dan Rasul
terakhir. Akan tetapi Uwais belum pernah berjumpa dan menulis hadis dari beliau
SAW. Oleh karena itu Uwais tidak tergolong sahabat Rasulullah SAW. Diantara ajaran Uwais
al-Qarani yaitu, berbakti kepada ibunya, selalu berbuat baik kepada. Disamping
itu, Uwais
juga salah satu tabi’in yang memiliki sifat zuhud terhadap dunia.
2.
Amir Bin Abdillah
Amir bin Abdillah bin Qais lebih
dikenal dengan nama kinayahnya yaitu Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy‘ari. Amir
adalah sosok tabi’in yang hidup pada tingkatan kedua setelah zaman para sahabat
dan berprofesi sebagai hakim dalam mengurusi pengadilan di kota Kuffah setelah
Syuraih. Abu Burdah adalah sosok tabi’in yang ahli dalam bidang fiqih selain
itu ahli ibadah, puasa, sholat malam, zuhud, dan termasuk seorang yang sudah
sampai maqam ma’rifat. Sosok yang mengkolaborasikan antara ilmu, amal, jihad
serta sosok yang tidak tergiur sebab kekuasaan yang dimilikinya, dan tidak
terperdaya oleh dunia. Abu Burdah wafat pada tahun 103 H, pendapat lain
mengatakan 104 H dan berumur lebih dari 80 tahun. Pemikiran tentang tasawufnya
telah disebutkan di dalam kitab sifah al-Shafwah yaitu diceritakan
bahwasannya Amir bin Abdillah adalah seorang tabi’in yang zuhud serta telah
mencapai maqam haya’ kepada Allah SWT. Ibn Wahb menceritakan bahwasannya
Amir bin Abdillah sosok yang juga ahli ibadah. Manifestasinya adalah
melaksanakan shalat sunnah sebanyak seribu rakaat setiap hari yang dimulai dari
terbitnya matahari dengan terus menerus hingga waktu ashar menjadi kewajiban
beliau.
3.
Harim bin Hayyan
Harim
memiliki nama lengkap Harim
bin Hayyan al-‘Abdi al-Rab’i ada yang mengatakan al-Azdi al-Basri. Beliau
dinamakan dengan nama Harim yang artinya tua karena memiliki kelainan dengan
bayi biasanya yaitu tua dikandungan ibunya selama 2 tahun sehingga gigi-gigi
serinya tumbuh. Al-Zarkasyi menilai bahwa Harim adalah sosok pemimpin, penakluk, dan salah satu
sosok yang ahli ibadah dari kalangan tabi’in. Hidupnya dihabiskan untuk
beribadah kepada Allah SWT. Disamping itu,, Beliau juga pernah memimpin sebagian peperangan yang
terjadi di masa khalifah Umar dan Utsman. Harim menetap di kota Bashrah dan
meninggal pada tahun 26 H di medan perang. Tidak sedikit riwayat yang menyebutkan Harim
bin Hayyan sebagai tokoh sufi dari kalangan tabi’in. Salah satu manivestasi
yang menyatakan bahwa beliau adalah tokoh sufi dari kalanan tabi’in yaitu
riwayat dari Ulqimah bin Mursyid, dia berkata: “Harim bin Hayyan adalah salah
satu tokoh sufi yang menerapkan konsep zuhud dari kalangan tabi’in yang
berjumlah delapan. Menurut perspektif dan analogi penulis setelah melakukan
observasi dari beberapa referensi dan ibara>t yang telah ditemukan, kezuhudan Harim bin Hayyan dapat
diraih dan diperoleh dengan melalui konsep muhasabah atau intropeksi
diri olehnya.
4.
Hasan al-Bashri
Hasan al-Bashri adalah tokoh sufi yang memiliki nama lengkap Abu Sa’id
Hasan bin Yasar al-Bashri. Hasan al-Bashri dilahirkan di Madinah pada tahun 21
H/110 M pada masa pemerintahan sahabat Umar r.a. Hasan al-Bashri adalah sosok
ahli fiqih, qira’ah, zuhud, dan ahli ibadah.
Hasan al-Bashri adalah seorang zahid yang termasyhur di kalangan tabi’in.
Konsep zuhud Hasan al-Bashri berdasarkan rasa takut (khauf) kepada Allah
SWT.
5.
Urwah bin Zubair
Urwah bin Zubair bernama Abu ‘Abdillah
Urwah bin Zubair bin al-Awam bin Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushai
bin Kilab al-Qursyi al-Asadi. Urwah dilahirkan pada tahun 22 H. Ada yang
berpendapat 26 H. Urwah bin Zubair adalah sosok yang alim dan senantiasa menjalankan ibadah
kepada Allah SWT sehingga menjadi hamba Allah yang shalih. Urwah bin Zubair
juga meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub Al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan masih banyak lagi.
Beliau wafat di sebuah desa kecil dekat kota Madinah pada tahun 93 H dalam
usianya yang ke-70 tahun dalam keadaan sedang berpuasa. Urwah bin Zubair adalah
salah seorang sufi dari kalangan yang mengajarkan konsep tabah, sabar dan
syukur dalam menuju ma’rifat billah. Ketiga konsep ajaran ini terlihat dari peristiwa
diamputasinya kaki Urwah sebab tertimpa suatu penyakit kulit yang
menggerogoti anggota kakinya, yang kambuh pada saat menghadiri suatu majlisnya khalifah al-Walid bin Abdul
Malik yang berada di kota Syiria.
6.
Muhammad Bin Hanafiah
Muhammad
bin Hanafiah bernama Abu al-Qasim Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Ibnu
Hanafiah Muhammad ibn al-Hanafiyyah lahir di akhir masa khilafah Abu Bakar al-Shiddiq. Mengenai tahun
wafatnya Muhammad bin Hanafiah para ulama berbeda pendapat. Menurut Amr bin Ali
adalah 114 H. Sementara menurut al-Bukhari dan Abu Nuaim adalah 80 H. Muhammad bin Hanafiah adalah seorang yang yang tidak
menginginkan kerusakan di bumi tidak pula ketinggian di antara manusia. Beliau belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya. Beliau juga
menjauhi kekuasaan demi menjaga dari pertumpahan darah.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini masih terdapat
beberapa kekurangan dan kesalahan, baik dari segi penulisan maupun dari segi
penyusunan kalimatnya dan dari segi isi juga masih perlu ditambahkan. Oleh
karena itu, kami sangat mengharapkan kepada para pembaca makalah ini agar dapat
memberikan kritikan dan masukan yang bersifat membangu
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Haq bin Abdurrahman Ibnu al-Khirath (w. 581 H), Al-Ahkam
al-Syar’iah al-Kubra, cet. 1, (Riyadh: Maktabah al-Rasyad, 2001).
Abdul Wahhab
al-Sya’rani, Al-Tabaqat al-Kubra, (Lebanon: Beirut, Dar al-Kutub
al-Ilmiah, cet. 3, 2013).
Abdurrahman al-Suhaim, Ithaf al-Kiram bisyarhi ‘umd al-Ahkam,
Maktabah al-Syamilah.
Abdurrahman bin Ali bin
Muhammad, Sifah al-Shofwah, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet. 2, 1979).
Abi Usamah Muhammad bin Salim bin Ali Jabir, Al-Dar wa al-Yaqut fi
tarajimi ‘a’lam al-Muhadditsin min hadramaut.
Abu al-Abbas, Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakar bin Khalkan, Wafiat
al-A’yan, (Beirut: Dar Shadir, 1990).
Abu al-Fadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh (w. 544 H), Ikmal al-Mu’lim
bifawaid Muslim, (Mesir: Dar al-Wafa’, 1998).
Abu al-Farj Abdurrahman Ibn al-Jauzi, Talqih fuhum ahl al-Atsar fi
uyun al-Tarikh wa al-Sair, (Beirut: Syirkah Dar al-Arqam, 1997).
Abu Bakar Muhammad bin
Khalaf al-Dhobbi al-Baghdadi (w. 306 H), Akhbar al-Qudhah, cet. 1, (ttp:
Al-Maktabah al-Tajariah al-Kubra, 1947).
Abu Hafs Umar bin Ibrahim al-Hafidz, Al-Mufham lima usykila min
talkhisi kitabi Muslim, Maktabah al-Syamilah.
Ahmad Bangun Nasution, Rayani Hanum Siregar, Akhlak Tasawuf,
edisi ke-2, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2015).
Ahmad bin Isma’il bin Yusuf
al-Thaliqani al-Quzwaini, (w. 590 H), Atsar al-Balad wa akhbar al-Ibad,
(ttp: Mauqi’ al-Waraq, tth), Maktabah al-Syamilah.
Al-Bari, Al-Jauharah fi nasab al-Nabi wa ashhabihi al-‘Asyrah.
Maktabah al-Syamilah.
Ali bin Burhan al-Din al-Halbi,
al-Sirah al-Halbiyah fi
sirah al-Amin al-Ma’mun,
Maktabah al-Syamilah.
Ali
Muhammad Muhammad al-Sholabi, Umar bin Abd al-Aziz Mualim al-Tajdid wa
al-Islah al-Rasyidi ala Minhaj al-Nubuwah, juz 2, hal 212.
Al-Nawawi, Tahdzib
al-Asma’ wa al-Lughat, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), Maktabah al-Syamilah,
juz 1, hal 103.
Al-Sifdi, Al-Wafi bil
Wafiat. Maktabah al-Syamilah.
Atiyah bin Muhammad Salim (w. 1420 H), Syarh al-Arbain al-Nawawiah,
Maktabah al-Syamilah.
Fuad Sazkin, Tarikh al-Turats al-Arabi, Maktabah al-Syamilah.
Ibnu al-‘Adim, Bughyah al-Talb fi tarikh halb,
(tp, tt, tth), Maktabah al-Syamilah
Ibnu Mandzur, Mukhtasar
Tarikh. Maktabah
al-Syamilah.
Ibnu Taghri Bardi, Al-Nujum
al-Zahirah. Maktabah
al-Syamilah.
Ibnu Qutaibah al-Dainuri, Al-Ma’arif. Maktabah al-Syamilah.
Khairuddin bin Mahmud bin Muhammad bin Ali bin Faris al-Zarkali
al-Damasyki (w. 1396), Al-‘A’lam, (tt: Dar al-Ilmi lil Malayin, cet. 15,
2002).
Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi, Tadzkirah al-Huffadz,
Maktabah al-Syamilah, juz 1, hal 62.
Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi,
Siyar a’lam al-Nubala’.
Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi, Tarikh
al-Islam wa Wafiyat al-Masyahir wa al-‘A’lam, cet. 1, (Lebanon: Beirut, Dar
al-Kutub al-‘Arabi, 1987).
Abdurrahman bin Ali bin Muhammad, Sifah
al-Shofwah, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet. 2, 1979), juz 3, hal 202.
Ibnu Mandzur, Mukhtasar Tarikh. Maktabah al-Syamilah, juz 7, hal 78.
Syamsuddin Muhammad
bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi,……, Maktabah al-Syamilah, juz 4, hal 433.
Syamsuddin Muhammad
bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi,
……, juz 5, hal 210.
Ibn Mandzur,…..., Maktabah al-Syamilah, hal 3082.