SANG PENEGAK NORMA-NORMA SYARI’AT ISLAM
Oleh:
M. Ainur Rosy
Prodi Tasawwuf dan Tarekat Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya

Agama Islam adalah agama yang benar, diterima dan diridhoi oleh Allah SWT. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam al-Qur’an:
 العمران : 19)) إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
 Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” {QS. Al-Imran: 19}.

 Al-Khati>b (1964) berpendapat dalam tafsirnya bahwa agama Islam adalah agama yang hak dan paling diterima disisi-Nya. Karenanya, norma-norma syariat yang ada dalam agama Islam dijaga dan ditegakkan sampai saat ini. Mayoritas dari kalangan santri dijuluki sebagai sang penegak norma-norma syari’at agama Islam. Mereka dijuluki seperti itu karena mereka menegakkan norma-norma syari’at agama Islam dikala orang-orang lain sedang sibuk dengan pekerjaan dan materi.
 Motivasi santri untuk menegakkan norma-norma syari‘at Islam mungkin dari penggalan hadis yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah sebagaimana perkataan (Al-Husni>, 2011) dalam tafsirnya:
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلاَيَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شىء
Barang siapa dalam agama islam menjalankan syariat yang baik lalu dilakukan oleh orang setelahnya maka dia akan mendapat pahalanya orang yang melakukan setelahnya dan tidak dikurangi sedikitpun dari pahalanya
Santri memang tidak heran apabila dijuluki oleh masyarakat sebagai sang penegak norma-norma syariat agama islam karena mereka sudah diajarkan dan dituntut oleh ustad atau kyai untuk menerapkannya sewaktu di pesantren. Pada saat terjun ke masyarakat, kaum santri sudah ahli dalam hal tersebut.
Istilah santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah 1). orang yang mendalami agama islam, 2). Orang yang beribadah dengan sungguh, 3). Orang salih. Menurut sebagian para ahli sastrawan mengatakan bahwa makna santri adalah bahasa serapan dari bahasa inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu sun dan three yang berarti tiga matahari, namun yang dimaksud mereka dari makna santri pada dua suku diatas adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu iman, islam dan ihsan. Semua pembahasan mengenai iman, islam dan ihsan dipelajari di pesantren dan menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan rendah diri, berpegang teguh kepada norma-norma islam. serta dapat berbuat ihsan (baik) kepada sesama. Munculnya devinisi santri seperti diatas karena santri adalah orang yang berilmu dan orang berilmu telah di nas dalam al-Qur’a>n al-Karim:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (الزمر : 9)
"Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?." {QS. Al-Zumar: 9}
Dan al-Sunnah sebagaimana yang telah dikatakan oleh (Al-Sabti>, 1998):
ومن يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
Barang siapa dikehendaki baik oleh Allah SWT maka dia akan difahamkan mengenai agama”.
Makhfudli (2009) menyebutkan bahwa Seseorang dapat dikatakan sebagai santri apabila mereka sudah mengenyam pendidikan di pondok pesantren walaupun hanya sebentar. Memang sudah tidak asing lagi penyebutan santri di telinga masyarakat Nusantara khususnya di masyarakat Jawa. Karena pulau Jawa baik Jawa Timur, Jawa Tengah atau Jawa Barat sudah banyak berdiri pondok pesantren yang memberikan sebuah trobosan mengenai sistem pembelajaran yang sangat memprioritaskan ilmu agama islam dan mempraktekkannya. Pada umumnya metode yang diajarkan berbasis kutu>b al-turath}. Bahkan jumlah pondok pesantren yang ada di pulau jawa itu tidak bisa dihitung karena terlalu banyaknya.  
Mereka adalah orang-orang yang diharapkan nantinya sebagai seseorang yang dapat memimpin segala aspek dalam kehidupan yang senantiasa melakukan tindakan yang selaras dengan norma-norma syariat, konsisten, jujur, adil, dan sabar dalam menjalankan segala tugas atau amanat yang sudah diembannya. Hal itu semua, sudah tertanam dalam jiwa seorang santri karena mereka sudah terbiasa, bahkan sudah menjadi sebuah karakteristik mereka. Baik kepemimpinan itu bermulai dari tingkatan terbawah yaitu keluarga, pemimpin masyarakat dimana dia tinggal, dan sampai ke tingkatan  teratas yakni presiden (Hidayat, 2008).
A.   CIRI KHAS SANTRI
-Pencari Ilmu Sejati-
1.      TIRAKAT
Istilah tirakat pasti tidak akan ditemukan di sekolah-sekolah atau pendidikan di Nusantara selain di pondok pesantren. Nah, salah satu indikator yang sangat menunjukkan bahwa seseorang dapat dikatakan nyantri adalah tirakat. Namun tirakat itu apa?. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tirakat adalah menahan hawa nafsu seperti berpuasa. Dapat diartikan pula tirakat adalah meninggalkan hal-hal yang diinginkan oleh nafsu sehingga dapat mengantarkannya lebih mudah dalam memahami, menghafalkan, dan menelaah pelajaran dari seorang ustad atau kyai. Tipe tirakat santri itu berbeda-beda. Ada yang meninggalkan berbicara yang tidak bermanfa’at (berbicara seperlunya), berpuasa nabi dawud, puasa setiap hari senin dan kamis, salat tasbih dan tahajjud setiap malam,  mengahabiskan waktu malamnya untuk belajar, jarang tidur, dan sebagainya. Hal itu semata-mata dilakukan untuk penunjang keberhasilan mereka dalam mencari ilmu di pondok pesantren. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang bertirakat tubuhnya menjadi kurus, matanya tidak sehat karena jarang tidur, dahinya hitam karena sering salat tasbih dan tahajjud, pipinya (kempong: jawa), dan lain sebagainya. Tidak sedikit dari mereka yang sukses dan ilmunya bermanfa’at bagi orang lain sebab bertirakat. Seperti yang telah dialami oleh kanjeng Syeikh Abdul Qadir al-Jailany r.a yang mana beliau sangat menjaga jiwa dan diri beliau dari hawa nafsunya yang pada akhirnya beliau menjadi rajanya para wali Allah SWT. Dengan pengorbanan semacam ini, orang tersebut yakin akan dimudahkan oleh Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan hajat tertentu.

2.       MUSYAWARAH
Salah satu tanda yang juga dimiliki oleh seorang santri adalah senantiasa bermusyawarah dalam segala aspek terlebih dalam keilmuan. Mereka mengamalkankan firman Allah SWT dalam al-Qur’an:
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ (العمران: 159)
"dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu". {QS. Al-Imran: 159}.

Al-Ta>hir (1984) menafsiri ayat diatas dalam tafsirnya bahwa tujuan dari bermusyawarah adalah meminta bantuan kepada para peserta musyawarah lain tentang suatu persoalan sehingga persoalan tersebut bisa teratasi dengan mufakat. Diskusi ilmiah selalu mereka depankan dari selainya yang disertai dengan beberapa ibarat dari kitab-kitab al-mu’tabarah. Problematika-problematika terbaru dan terhangat dikalangan masyarakat selalu mereka pecahkan dengan jawaban-jawaban yang dihasilkan melalui musyawarah. Hal ini menjadi sebuah karakter yang tidak dimiliki oleh selain santri. Berbekal ilmu dasar-dasar bahasa arab seperti nahwu, shorrof, i’lal, ushul fiqih, qoidah fiqih, balaghah, dan sebagainya yang menjadi penunjang pemahaman mereka dalam bermusyawarah.

3.      MENYIBUKKAN DIRI UNTUK BERIBADAH
“Santri” ada yang menyebut singkatan dari “saya anak nakal tapi rajin ibadah” dari singkatan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak semua santri pendiam dan penurut namun ada sebagian dari mereka yang nakal (tidak patuh), meskipun demikian mereka tetap rajin beribadah. Tempat paling di sering di diami oleh kaum santri adalah masjid, baik dibuat untuk salat, mengaji, belajar, musyawarah, dan selainnya. Fahruddin al-Ra>zi> berkata dalam tafsirnya: “Ketahuilah, seseorang yang telah mengetahui faidah-faidah ibadah maka dia senang untuk sibuk beribadah, dan dia akan merasa berat untuk berpindah sibuk kepada selainnya”.  Dari penafsiran diatas, sangat pas bilamana diarahkan pada para santri yang menjadi sosok orang yang sedang menikmati kenikmatan dalam menyibukkan diri untuk beribadah. Dalam hadis disebutkan: “Orang yang ahli ibadah dengan tanpa mengetahui ilmunya maka seperti keledai yang tersesat dalam perjalanan yang tidak mengetahui dimana dia berada”. Hadis diatas merupakan celaan bagi para ahli ibadah yang tidak mengetahui ilmunya. Sangat tidak pas, seandainya hadis diatas ditujukan kepada para santri yang telah mengenyam ilmu bertahun-tahun di pondok pesantren yang tentunya mereka sudah ma‘lum tentang ilmu tersebut.

4.      MENYELAMI DAN MENCARI MUTIARA SAMUDRA ILMU DI WAKTU MALAM
Malam memang waktu yang pas untuk para santri menyelami samudra ilmu yang terdapat pada berbagai kitab. Baik itu berupa pemahaman sendiri atau berupa musyawarah ilmiah atau menghafal nadzom atau selainnya. Banyak dari mereka yang senantiasa menelaah kitab pada malam hari. Kebiasaan ini dilestarikan sampai saat ini.

5.      CITA-CITA YANG LUHUR
Rata-rata dari para santri yang ada di berbagai pondok pesantren memiliki  cita-cita luhur yang tidak dimiliki oleh pelajar-pelajar lain. Diantaranya, menjadi ustadz, penceramah, kyai dan lain sebagainya. Hal ini tidak terlepas dari kebiasaan mereka di pondok yang mengajarkan tentang ilmu-ilmu agama.

6.      MEMILIKI BANYAK TEMAN
Diantara keistimewaan pondok pesantren yang diasuh oleh seorang kyai adalah memiliki santri dari berbagai kota, pulau, bahkan negara. Oleh karenanya, seorang santri baik yang menetap atau tidak menetap lebih banyak  memiliki teman dari pada pelajar-pelajar lainnya.

7.      BARAKAH
Istilah barakah itu hanya terdapat di pondok pesantren yang basicnya salaf. Sering kali kita mendengar,  setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapatkan barokah Kiainya, maka ilmu yang didapat akan sia-sia. Dalam pandangan pesantren tabarrukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah, ziyadatul khair. Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Barakah tersebut tidak terlihat namun dapat dirasakan bagi mereka yang mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan di pondok pesantren. Seorang santri dapat dikatakan mendapat sebuah barakah apabila dia telah kembali ke rumahnya bukan sewaktu di pondok pesantren.

8.      BERKHIDMAH (MENGABDI)
Ada sebuah ungkapan “wa bil khidmati intafa‘u> wa bil hurmati irtafa‘u>” ( dengan berkhidmah akan bermanfaat dan dengan berhormat akan naik derajat). Banyak dari kalangan santri yang mengerahkan seluruh jiwa dan kekuatannya untuk berkhidmah kepada kyainya. Hal ini sudah lazim di kalangan mereka bahkan banyak ulama’ yang terkenal akan keilmuan dan kekeramatannya berkat kesungguhannya dalam berkhidmah kepada kyai atau syeikh. Hal ini juga menjadi salah satu indikator seorang santri dalam masa menyantri di pondok pesantren.

B.  Urgensi menjadi Santri
Setelah kita mengetahui tentang perkembangan dan indikator santri yang telah dijabarkan diatas, kita perlu mengetahui juga urgensi menjadi seorang santri yang dapat memberikan manfa’at bagi orang lain dan menjadi contoh terhadap kepribadian yang diharapkan oleh ajaran agama islam.
Hal yang paling terpenting menjadi seorang santri adalah:
1.      Bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. 
2.      Dapat memberikan dampak positif atau manfa’at terhadap orang-orang disekitarnya dalam segala aspek.
3.      Berakhlaqul karimah (berbudi pekerti yang baik).
Dunia yang semakin hari semakin rusak dan hancur sebab terpengaruh oleh arus globalisasi dari budaya asing, tentunya merusak kepribadian dan karakter bangsa indonesia. Maka sangat dibutuhkan seseorang yang dapat meminimalisir arus globalisasi tersebut di Indonesia. Muncullah sosok seorang santri yang sudah terbiasa dengan adanya sebuah tantangan, rintangan, dan problematika yang dihadapinya di pondok pesantren dengan berbekal ilmu pengetahuan agama dan di iringi dengan do’a dari para kyai dan ditambah dengan usaha mereka yang bersungguh-sugguh dalam mencari ilmu dan bertirakat, sebagai  orang yang dapat menyelesaikan seluruh tantangan, rintangan, dan problem-problem yang akan dihadapi di Indonesia. Oleh karenanya, hanya santri-lah yang dapat mencegah atau meminimalisir arus globalisasi dengan tetap berpegangan terhadap al-Qur’an dan al-Sunnah yang menjadi pedoman hidup seluruh muslim di dunia ini.

C.  Peran Santri Dalam Menjaga Perdamaian
Di tengah memanasnya konflik yang tidak kunjung selesai, kalangan santri di Indonesia telah manampilkan Islam dengan tanpa peperangan, metode pribumisasi Islam yang mereka lakukan di Indonesia telah membawa warna baru dalam budaya yang telah berkembang sebelumnya. Islam yang lembut dan ramah diterima dengan lapang oleh masyarakat Indonesia dan bertahan sampai sekarang dalam bentuk dan isi yang sama, yaitu sebagai rahmatan lil a>lami>n (agama yang membawa perdamaian bagi semua umat).
 Al-Khan (tt.) berkata bahwa Perselisihan biasanya bermula dari hasutan, gunjingan dan penghinaan dari orang lain. Penyebab yang lain adalah kemarahan. Rasulullah sudah mewanti-wanti agar seseorang tidak melakukan hal tersebut dan beliau SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Dari Abu Hurairah beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Berwaspadalah akan prasangka karena sesungguhnya prasangka adalah kabar yang paling bohong dan janganlah kalian meneliti cacat dan aib dari orang lain dan janganlah kalian saling bermarah-marahan dan janganlah kalian memalingkan punggung kalian ke wajah saudara kalian dan janganlah kalian senang dengan hak orang lain dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”
Hadis diatas memberikan banyak faedah salah satunya ialah menjaga persaudaraan se-agama. Faedah tersebut di kuatkan dengan hadis lain:
المسلم أخو المسلم
Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain

Kaum santri menghindari beragama secara egois, seseorang harus berinteraksi dengan orang lain yang berbeda. Dalam pesantren, para santri dididik secara langsung mengenai keragaman. Mereka akan dipertemukan dalam satu naungan pondok pesantren yang di dalamnya banyak macam suku, budaya, bahasa maupun etnis. Pertemuan ini merupakan awal dari terciptanya rasa untuk saling mengerti, memahami dan peduli. Dari ketiga sifat tersebut merupakan inti dari terwujudnya perdamaian.
Untuk mengasah rasa kemanusiaan, para santri tidak hanya diajarkan bagaimana perjumpaan yang baik, akan tetapi juga diajarkan ilmu untuk memahami agama dari akarnya yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Seperti Nahwu, Sorrof, ushul fiqih, ilmu tafsir, ilmu hadis, Balaghoh, Tauhid, Tasawwuf dan mantiq. Semuanya guna mengukuhkan akidah atau keyakinan sebagai seorang muslim,  dan juga membantu para santri dalam memahami khazanah Islam klasik, kitab kuning (kutub at-turats) dan penguatan kapasitas intelektual mereka.
Dengan perbekalan demikian, para santri bisa menjadi pribadi yang terbuka (open minded) akan perbedaan. Dengan bekal ilmu yang dimiliki, para santri mampu membentengi diri dari tindakan intoleran dan tidak terjerumus masuk ke dalam kelompok-kelompok radikal. Karena kecenderungan kelompok radikal adalah melihat tafsir keagamaan hanya dari satu sisi dan seringkali merugikan bahkan mencederai kelompok lain. Para santri berlandaskan firman Allah SWT:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الحجرات: 10)
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat". {Al-Hujurat: 10}
Memang tidak semua santri bisa menyelesaikan perselisihan akan tetapi mayoritas orang menganggap bahwa santri yang bisa menyelesaikan perselisihan, pertikaian, permusuhan, atau pertengkaran yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan mendamaikannya. Kadang kala mereka para santri menjadi motivator masyarakat dalam hal ibadah dan terkadang pula mereka menjadi obat dari penyakit hati masyarakat. Apalagi pada ere sekarang, permusuhan dan kesewenang-wenangan terjadi dimana-mana, bahkan di Negara Indonesia pun yang mayoritas beragama islam dan menerapkan asas perdamaian masih saja terjadi perselisihan dan peperangan dingin (Kant, Immanuel, 2006).  Hal ini tidak terlepas dari kaca mata masyarakat kepada santri yang berkeyakinan penuh kepadanya, sehingga seakan-akan santri itu lebih ahli dalam masalah penyelesaian perselisihan dan perdamaian dari orang lain.
Para santri dianjurkan untuk duduk di garda terdepan dalam membangun perdamaian sesuai dengan misi islam sebagai pembangun perdamaian. Santri juga harus menjadi pribadi yang mendamaikan. Cara pertama, dapat melerai pertikaian. Cara kedua, dapat memulihkan hubungan. Terakhir ikut dalam upaya membangun relasi yang adil.
 Dari penjabaran diatas maka dapat diambil kesimpulan, bahwa sosok santri adalah seseorang yang sangat menjaga dan menegakkan norma-norma syari’at agama islam khususnya dalam permasalahan ubudiyah dan muamalah, serta mereka juga memiliki sifat  terpuji yang memberikan kemaslahatan besar bagi masyarakat Indonesia yaitu membangun perdamaian di bumi Nusantara. Maka  jangan sekali-kali menghina dan mengejek kaum santri yang memiliki sifat mulia itu.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Hasani, Sayyid alwi bin sayyid Abbas al-Maliki, Fath al-Qari>b al-Muji>b, (Hai’ah al-S{afwahal-Malikiyah), hal 55.
Al-Husni>, Muhammad bin Isma>i>l bin Sala>h bin Muhammad > (w. 1182 H.), al-Tanwi>r Syarh al-Ja>mi‘ al-Sagi>r, (Al-Riyad: Maktabah Dar al-Sala>m), vol. 10 hal 464.
Al-Khan Must}afa> Sai>d, Mustafa> Di>b al-Gha>b, Muhyiddi>n Mustawin, Ali> al-Tsuraiji>, dan Muhammad Ami>n Lati>f, Nazhah al-Muttaqi>n, (Dar al-Must}afa) vol. 2 hal 302, 303.
Al-Khati>b, Muhammad Abdul Lati>f (w. 1402 H.), Audhah al-Tafa>si>r, (al-Matba‘ah al-Mis}riyah), vol. 1 hal 60.
Al-Qur’a>n Digital versi 2. 1
Al-Ra>zi>,  Abu> Abdillah Fahruddin Muhammad bin Umar al-Tami>mi> (w. 606 H.), Mafa>ti>h al-Gaib,  (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2000), vol. 1, hal 152.
Al-Sabti>, I<yad bin musa> bin Iya>d bin Amru>n al-Yahs}abi (w. 544 H.), Ikma>l al-Muallim bifawa>id Muslim, )Mesir: Dar al-Wafa>‘ li al-T{aba>‘ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi‘, 1998) vol. 8, hal 170
Al-Ta>hir, Muhammad al-Ta>hir bin Muhammad bin Muhammad (w. 1393 H.), al-Tahri>r wa al-Tanwi>r, (Beirut, Lebanon: Muassisah al-Tari>kh al-Arabi>), vol. 3, hal 267.
Ferry Efendi, Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Hlm. 313.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ofline versi, 1.1
Kant, Immanuel, Toward Perpetual Peace and Other Writings on Politics, Peace, and History, Pauline Kleingeld (ed), Yale University Press, New Haven dan London, 2006.

KH. Dr. Surahman Hidayat, Islam Pluralisme dan Perdamaian, (Rabbani Press, 2008)

TAKHASSUS TASAWUF DAN TAREKAT

SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF DI NUSANTARA Makalah Ini Diajukan Guna Memenuhi Mata Kuliah: TASAWUF NUSANTARA ...

SANTRI MENULIS