Ada apa
dengan jum’at?
Pada
dasarnya Artikel ini dibuat semata-mata untuk menyelesaikan tugas ujian tengah (UTS) semester 1 perodi tasawwuf
wa thariqatuhu dalam bidang hadis. Semula dosen pengampu tidak menyuruh
untuk membuat artikel dan beliau hanya mengambil nilai UTS dari absen kehadiran
saja, namun salah satu dari teman kelas saya meminta untuk UTS maka dengan hati
terpaksa artikel ini ditulis sebagai nilai UTS yang akan diberikan oleh dosen
pengampu (Ust. Muhammad Khudori M.Th.I).
Hari
jum’at adalah hari raya orang muslim dan hari jum’at merupakan hari terbaik
dalam satu pekan, sebagaimana dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bersabda.
“Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari
itu Adam Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya
dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.”.[1]
Ibnu
Daqiq al-I’id juga menyebutkan dalam kitab Ihkam al-Ahkam beberapa
keistimewaan hari jum’at, diantaranya merupakan hari terciptanya nabi Adam a.s
sebagaimana hadis riwayat Ibnu Abbas a.s, Rasulullah SAW bersabda: “Hari jum’at
dinamakan dengan jum’at karena pada hari itu Allah mengumpulkan ciptaannya
yaitu nabi Adam a.s.”. Beliau juga menuqil pendapat Ibnu al-Qayyim dalam kitab
(al-Huda) yaitu: “Hari Jum’at memiliki 32 kekhususan yang diantaranya
adalah hari kegembiraan umat muslim dan tidak boleh berpuasa di hari itu dengan
tanpa tujuan atau tidak sering dilakukan, dan turunya ayat al-A’la,
al-Ghasyiah, al-Jum’at, dilipatkannya pahala bagi orang yang melangkahkan kaki
untuk salat jum’at, ditutupnya pintu neraka jahannam, penghapusan dosa, dan paling
bagusnya hari dalam satu pekan.
Keistimewaan
lain hari Jumat adalah saat-saat dikabulkannya doa, yaitu saat-saat terakhir
setelah shalat ashar (seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits) atau di
antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai
ditunaikan.[2] Oleh
karenanya orang-orang muslim di dunia ini terutama di bumi nusantara sangat
antusias dalam melaksanakan ibadah pada hari itu. Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum
Muslimin dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu.[3]
Diantara
keagungan dan keutamaan hari
Jumat adalah hari diperintahkannya salat Jum’at. Allah SWT
berfirman: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat
Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual
beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu’ah:9]
Rasulullah
bersabda: “Barang siapa mendengar panggilan adzan untuk salat jum’at maka wajib baginya salat, kemudian apabila
dia tidak salat maka Allah telah
murka kepadanya”.[4] Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan,
“Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat
orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” [Abu Daud].
“Barangsiapa
yang berwudhu kemudian memperbaiki wudhu’nya, kemudian bergegas untuk
menghadiri salat jum’at lalu ia diam untuk mendengar khutbah, maka Allah akan
mengampuni dosanya diantara dosa pada hari jum’at dan tiga hari setelahnya dan
baran siapa yang memegang batu untuk dilemparkan maka sungguh ia telah sia-sia”.[5]
Dari
dalil-dalil diatas menunjukkan kewajiban salat jum’at yang mana di dalamnya terdapat khutbah tentang
ajaran agama islam. Setelah mengetahui kewajiban salat jum’at, kita juga perlu
menetahui bahwa agama islam juga menyuruh untuk menghormati dan mendengarkan kandungan
ilmu yang termuat dalam isi khutbah tersebut, oleh karenanya Rasulullah SAW
bersabda: “Ketika kamu bercakap-cakap dengan temanmu
pada
hari jum’at maka diamlah yang
mana imam sedang berkhutbah”.[6]
Khutbah
yang dilakukan pada salat jum’at terdapat perbedaan pendapat menurut para
ulama’. Mayoritas ulama fiqih berpendapat bahwa salat jum’at memiliki dua
khutbah yang bersifat wajib. Imam Ibnu Daqiq al-I’id menuqil perkataan imam
Nawawi dalam Syarh Muslim beliau berkata, imam I’yad berkata: Kebanyakan
ulama’ berpendapat bahwa dua khutbah merupakan syarat sahnya salat jum’at. Akan
tetapi menurut imam Hasan al-Bashri, ulama ahli dhohir, riwayat Ibnu al-Majizun
dari Malik mengatakan salat jum’at hukumnya sah meskipun tanpa khutbah.
Tata cara dari dua khutbah itu ialah berdiri lalu
duduk lalu berdiri kembali, hal ini berdasarkan hadis dari sahabat Jabir,
beliau berkata: “bahwasannya Rasulullah
berkhutbah dua kali, beliau berdiri dalam berkhutbah , beliau memisah antara
dua khutbah dengan duduk”. Di dalam hadis diatas menyebutkan kata “duduk”, dan
dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Imam Syafi’i mengatakan duduk
merupakan fardhu dan syarat sahnya khutbah. Akan tetapi menurut imam Malik, Abu
Hanifah, dan Jumhur Ulama berpendapat bahwa duduk adalah bukan kewajiban dan
syarat.
Beberapa rahasia keagungan dan keutamaan lain dari hari jum’at yaitu;
1. Hari Dikabulkannya Doa. Di antara rahasia keutamaan
hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa.
“Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika
seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah
Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat
dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan
Muslim]
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya
pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan
shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan
mengabulkannya.” [HR.Bukhari dan Muslim]
2. Hari Pembeda antara Islam dan Non-Muslim. Hari
Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk
membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah
telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai
hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan
hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan
kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah
menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan
di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun
di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita
adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh
makhluk.” [HR. Muslim]
3. Hari Allah menampakkan diri. Dalam sebuah riwayat
disebutkan,Hari Jumat Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang
beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami
memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada
mereka setiap hari Jumat.”
Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya
adalah; Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Penghulunya hari adalah hari
Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih
agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.
Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan, Hari itu, bapak semua umat
manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat.
Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at